Saya sudah dari jam 9.30 memantau terus website berita yang ada di tanah air. Pasalnya pahlawan-pahlawan olah raga sedang bertanding di istora senayan, namun tidak ada satupun televisi nasional maupun lokal yang menyiarkan partai pertandingan penentu kejuaraan Thomas, tunggal kedua Taufik Hidayat. Setelah lebih dari satu jam memantau web berita tersebut ternyata berita duka cita yang saya dapat. Tim Thomas Indonesia kalah dengan nilai telak 0 – 3 atas tim Korea Selatan.
Tapi saya tetap memberikan standing ovation untuk tim Thomas Indonesia karena kegigihannya membela Indonesia, meski akhirnya gagal. Saya tidak akan mengkomentari tim Thomas kita yang kalah, karena mereka sudah all out bermain. Tapi saya mempunyai kesimpulan dari kekalahan tersebut. Kesimpulannya adalah : Bangsa Indonesia tidak ada kepatriotan dan kebanggaan terhadap tim Thomasnya.
Mengapa saya sebut demikian? Karena lihat saja, disaat partai paling penentu sedang berlangsung malah televisi kita tidak ada yang menyiarkan partai tunggal Taufik Hidayat tersebut. Trans Media Group lebih mementingkan pendapatannya daripada Bangsanya. Lihat saja demi acara yang sudah terjadwal maka siaran langsung dihentikan. Karena jadwal siaran langsung Piala Thomas – Uber hanya dijadwalkan sampai jam 9 malam saja. Saya rasa itulah mengapa Indonesia kalah. Karena tidak ada kebanggaan dari bangsanya sendiri. Trans Media yang menggembor-gembor Piala Thomas – Uber untuk kebanggaan bangsa sejak 2 bulan yang lalu, ternyata tidak membuktikan kebanggaannya. Tetap saja uang adalah segala (terbukti dengan Trans Media Group lebih mementingkan jadwal siarnya yang sudah di jadwalkan daripada menyiarkan secara lengkap kejuaraan tersebut). Sehingga terbukti bahwa relanya Trans Media Group menyiarkan kejuaraan ini bukan demi kebanggaan, tapi demi uang. Karena sponsor hanya membayar untuk siaran langsung sampai jam 9 malam. Bukan karena rasa tanggung jawab menyiarkan agar Bangsanya dapat melihat, memberi dukungan dan doa bagi pahlawannya.
Demikian juga dengan penonton Indonesia yang kelakuannya sangat mengganggu konsentrasi pahlawannya sendiri dengan sibuk meneriakkan “yah… huu…yah…huu”. Dengan perilaku penonton yang demikian, justru malah mengganggu konsentrasi tim Thomas kita. Seharusnya, saat shuttle cock dimainkan, penonton wajib tenang, baru memberikan yell yell saat cock tidak sedang bergulir. Ini membuktikan bahwa penonton Indonesia tidak dewasa, mengganggu konsentrasi dan lebih mementingkan emosi mereka saja. Penonton yang tenang saat pertandingan berlangsung adalah hal yang penting bagi konsentrasi pemain. Lihatlah ketika pertandingan tenis Grand Slam berlangsung, wasit tidak segan-segan untuk menegur penonton untuk diam saat bola dimainkan, dan penontonpun menurutinya. Coba kalau Grand Slam digelar di Indonesia, pasti wasit pertandingan akan stres karena sibuk menegur penonton untuk tenang.
Jadi jika boleh saya simpulkan, kekalahan Indonesia ini bukan semata-mata karena pemainnya tapi rasa kebanggaan yang tidak muncul dari bangsanya sendiri yang menjadi faktor lain dari kekalahan Indonesia. Sehingga stimulan dari perasaan dan kebanggaan Bangsa Indonesia untuk memenangi kejuaraan ini tidak keluar untuk menambah rasa harus menang menjadi hilang. Jangan sampai partai Final tim Uber kita besok juga terpotong siarannya pada jam 9 malam. Wahai bangsaku, berubahlah, 100 tahun kebangkitan nasional seperti tidak ada artinya bagi kalian.