Kerangka Berpikir Arif Apriyadi

Entries categorized as ‘Film’

Sisi Lain dari Film Avatar The Legend of Aang: Film dengan Political Representative

Juli 2, 2008 · 3 Tanggapan

Bulan Juli ini adalah musim liburan anak-anak sekolah. Kebetulan juga pada bulan Juli ini saya mengambil cuti panjang, sehingga ada waktu luang menemani keponakan-keponakan saya dalam menonton film kartun kesayangannya. Sudah beberapa hari ini saya menonton film Avatar bersama keponakan saya. Walaupun film Avatar yang disiarkan di Global TV adalah ulangan (tepatnya sudah puluhan kali diulang), tapi masih cukup seru kok untuk ditonton lagi (ini menurut para keponakan saya). Karena sudah beberapa hari menonton, saya jadi cukup memperhatikan kawanan Avatar ini. Sampai pada Book 3 perkawanan Avatar berjumalah 5 orang, Aang, kitara, zuko, Saka dan 1 orang teman Avatar lainnya (saya lupa namanya).

Aang adalah seorang Avatar yang menguasai semua pengendalian element. Kitara adalah seorang gadis dari suku air yang menguasai pengendalian air, 1 orang gadis buta dari suku tanah yang menguasai pengendalian tanah, Zuko adalah seorang pangeran anak dari raja api yang menguasai pengendalian api, serta Saka dari suku air yang merupakan kakak dari Kitara yang tidak menguasai satupun pengendalian element. Pertama saya berfikir, mengapa tokoh Saka yang merupakan anak remaja yang buta pengalaman, selalu berprasangka buruk, egois dan terkadang kekanak-kanakan dimunculkan oleh sang Penulis naskah. Lalu apa hebatnya Saka, pengendalian satu element pun tidak bisa, ilmu beladiripun tidak hebat, selalu kalah dengan wanita, satu-satunya andalan Saka adalah Boomerangnya yang memang kerap membantunya saat mereka sedang dalam bahaya. Selebih tidak ada yang signifikan dengan Saka. Sungguh bukan idola anak-anak yang butuh akan hiburan kepahlawan seperti Avatar dan teman-temannya yang lain. Lalu kenapa Saka harus muncul? Apa yang Penulis naskah coba tunjukkan dari Saka? Apakah fungsinya memang hanya untuk membuat lelucon saja, sehingga film ini tidak terkesan monoton dan membosankan?

Ternyata tidak! Saka memerankan fungsi yang sangat penting, sama seperti teman-teman Avatar yang lainnya. Seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya pengalaman dan petualangan mereka, Saka tumbuh menjadi remaja yang mempunyai pemikiran strategic dan brilian. Banyak misi-misi penyelamatan diotaki dan digagas oleh Saka, si remaja egois ini. Bahkan kerap Avatarpun meminta ide-ide Saka sebelum mengambil keputusan. Saya melihat jelas bahwa Penulis mempunyai misi khusus terhadap Saka. Disaat semua teman-teman Avatar mempunyai kekuatan dan keahlian, namun tetap dibutuhkan orang-orang yang mempunyai pemikiran cerdas dan brilian, yang akan mengeluarkan ide-ide segar demi tercapainya misi mereka menyelamatkan dunia.

Saya yakin Penulis cerita ini ingin menunjukkan kepada penontonnya (terutama anak-anak dan remaja) bahwa pemikiran dan ide-ide (atau disebut juga Power of Knowledge dalam pemikiran Post-Modern) mempunyai kekuatan yang sama besar dan pentingnya dengan sebuah skill atau keahlian tertentu bahkan kekuatan otot. Bahwa ide-ide yang brilian adalah salah satu kunci dari kesuksesan dari sebuah perencanaan. Bahwa peranan ide-ide adalah hal yang tak terelakkan dari sebuah perjuangan dan harapan. Bahwa pemikiran dapat mengalahkan kekuatan otot dan senjata. Bahwa pemikiran yang strategis tidak bisa dianggap remeh. Bahwa pemikiran dapat menggulingkan sebuah tampuk kepemimpinan. Bahwa Power of Knowledge adalah sumber kekuatan yang sangat laten dan ampuh.

Inilah yang Penulis coba tularkan kepada penontonnya bahwa walaupun anda tidak mempunyai kekuatan yang super dan mumpuni, namun Power of knowledge tidak dapat dianggap remeh. Pemikiran anda sendiri adalah kekuatan yang tak terbendung. Pemikiranmu adalah senjatamu dan kekuatanmu. Sehingga selama anda yakin dengan diri anda, maka anda mempunyai kekuatan yang sangat besar. Tapi jika tidak, jangan harap anda akan menang. Oleh karena itu yakinlah dan berpikirlah dengan jernih sebelum mengambil tindakan.

Kategori: Film
Ditandai:

Ayat-ayat Cinta : Mencari Uang atau Dakwah?

April 13, 2008 · 1 Tanggapan

Film paling fenomenal setelah AADC (Ada Apa Dengan Cinta) adalah AAC (Ayat-Ayat Cinta). Bukan saja menurut saya, tapi memang fakta membuktikan begitu. Mungkin karena singkatan judul filmnya dimulai dengan AA, atau mungkin juga karena unsur “Islam” yang dibawa oleh film atau isu poligami yang diusungnya. Diluar itu semua harus saya akui bahwa AAC memberi warna tersendiri dalam dunia film Indonesia.

Karena hal itulah saya mencoba me-review film ini. Mungkin anda sebagian ada yang berucap bahwa ini adalah telat, sudah basi atau bahkan sudah kehilangan auranya. Tapi justru inilah yang menarik, disaat petinggi-petinggi ini “terlena” oleh film ini, saya merasa terpanggil untuk memaparkan “penglihatan” saya dari angle yang berbeda.

Kesan pertama untuk film ini adalah : tidak profesional. Mengapa? Jelas film yang bermutu adalah film yang bisa menampilkan semaksimal mungkin suasana “real” dari tema dan scene film tersebut. Kita ambil contoh film yang diangkat dari komik, Asterix & Cleopatra. Jelas dibuat di mesir. Padang pasir, piramid, dan bahkan patung spinx muncul dalam film tersebut. Membuat kita percaya bahwa film ini memang menceritakan tentang Cleopatra. Berbeda dengan AAC. Plotnya adalah film ini bercerita tentang mahasiswa Indonesia yang belajar di Al-Azhar, Mesir. Tapi apa yang terjadi? Bahkan Al-Azhar-nya pun tidak muncul disana. Bukankah akan lebih menarik jika menampilkan Universitas yang telah berumur ribuan tahun tersebut? Pasti anda bilang, “khan produsernya tidak dapat izin dari pemerintah Mesir”. Justru itulah lucunya, kok masalah perijinan saja tidak bisa mengurus? Apalagi ini film tentang Islam, tentu akan lebih memudahkan menurut saya, lihat saja film Asterix, The Mummy dan bahkan film Tomb Raider, yang banyak mengumbarkan wanita dan aurat, bisa mendapat ijin dari Pemerintah Mesir. Mesir adalah negara yang begitu besar pengaruh Islam-nya, apakah mungkin tidak mengijinkan untuk membuat film tentang Islam? Hanya ada 2 kemungkinan, produser film AAC yang tidak becus atau Pemerintah Mesir menilai lain untuk film ini.

Film ini, katanya, membawa nafas dakwah, tapi saya sangat khawatir tentang kata “dakwah” disini. Saya ambil contoh pertama, ketika Fahri merasa putus asa membaca surat dari Universitas Al-Azhar bahwa dirinya dikeluarkan dari Universitas tersebut. Penulis film mencoba menyamakan hal ini dengan kejadian Nabi Yusuf AS. Tapi menurut saya keadaannya sangat berbeda. Keadaan Nabi Yusuf yang lebih memilih untuk dipenjara adalah karena memang lebih baik dipenjara daripada berbuat zina memenuhi nafsu Ratu Mesir. Berbeda dengan kisah fahri ini, dia hanya dituduh memperkosa oleh seorang yang mencintainya dengan tulus ditambah dengan keadaannya yang takut akan siksaan ayahnya dan takut mengecewakan ayah aslinya. Jadi jelas-jelas berbeda keadaannya. Saya acungi jempol niat sutradara untuk berdakwah, tapi jangan sampai dakwah itu salah penyampaian.

Kedua, pernikahan Fahri dengan dengan Maria dilaksanakan disaat Maria masih koma alias tidak sadarkan diri. Jelas-jelas dalam Islam pernikahan tersebut tidak sah. Karena memang semua pihak dalam pernikahan tersebut haruslah sadar dan berniat untuk menikah. Hal ini dapat membawa pendidikan yang buruk bagi umat Islam. Jangan-jangan nanti ada orang yang meniru menikahi wanita yang sedang tidur atau tidak sadarkan diri. Atau bahkan lebih ekstrim lagi, sengaja menidaksadarkan sang wanita tersebut baru dinikahi selagi wanita tersebut tidak sadarkan diri.

Ketiga, Poligami adalah hal yang sah dan jelas diperbolehkan dalam Islam, tentunya dengan syarat yang sangat ketat bagi si pelaksana poligami. Tapi menurut saya film ini terlalu takut mengusung poligami ini. Atau bahkan kalau mau lebih ekstrim, isu poligami yang diangkat dari sutradara ini hanyalah untuk mencari keuntungan semata dari fenomena masyarakat Indonesia tentang poligami. Poligami dalam Islam jelas tujuannya hanyalah untuk beribadah dan membina keluarga yang sakinah, mawaddah warahmah. Seharusnya kalau benar memang film ini mengangkat dakwah, mengapa tidak memunculkan dakwah tentang poligami yang benar, poligami yang berbahagia dan adil bagi semua istri, dan poligami yang sesuai dengan syariah. Tapi sayangnya kenapa sutradara “mematikan” sosok Maria dalam film tersebut? Terlihat sutradara takut poligami ini akan menimbulkan “masalah” bagi filmnya dan bagi penontonnya. Atau mungkin takut akan adanya pertentangan dari masyarakat.

Sebenarnya masih banyak hal lainnya yang kecil-kecil ingin saya ceritakan, tapi sudah cukup panjang review ini saya tulis. Bagi saya film ini punya misi yang mulia, tapi sayang tidak dikemas dan dipersiapkan dengan matang dan benar. Mengapa saya tulis review ini? Karena saya sangat cinta dengan Islam, dan saya takut Dahwah Islam yang dimunculkan dalam film ini tersampaikan dengan cara yang salah dan menimbulkan hal yang tidak bagus bagi Islam. Semoga saja tidak. Amin! Semoga penonton film ini bisa melakukan croscek terhadap semua dakwah yang disampaikan di film ini supaya yakin benar bahwa dakwah tersebut memang sesuai tuntunan Islam. Kritis terhadap agamamu adalah penting. Karena Islam dimulai dengan Iqro dan diakhiri dengan Ikhlas. Artinya Islam berkekuatan pada ilmu dan iman. Mudah-mudah kita selalu diberi ilmu dan iman oleh Allah Swt. Amin!

Kategori: Critics · Film
Ditandai: