Bulan Juli ini adalah musim liburan anak-anak sekolah. Kebetulan juga pada bulan Juli ini saya mengambil cuti panjang, sehingga ada waktu luang menemani keponakan-keponakan saya dalam menonton film kartun kesayangannya. Sudah beberapa hari ini saya menonton film Avatar bersama keponakan saya. Walaupun film Avatar yang disiarkan di Global TV adalah ulangan (tepatnya sudah puluhan kali diulang), tapi masih cukup seru kok untuk ditonton lagi (ini menurut para keponakan saya). Karena sudah beberapa hari menonton, saya jadi cukup memperhatikan kawanan Avatar ini. Sampai pada Book 3 perkawanan Avatar berjumalah 5 orang, Aang, kitara, zuko, Saka dan 1 orang teman Avatar lainnya (saya lupa namanya).
Aang adalah seorang Avatar yang menguasai semua pengendalian element. Kitara adalah seorang gadis dari suku air yang menguasai pengendalian air, 1 orang gadis buta dari suku tanah yang menguasai pengendalian tanah, Zuko adalah seorang pangeran anak dari raja api yang menguasai pengendalian api, serta Saka dari suku air yang merupakan kakak dari Kitara yang tidak menguasai satupun pengendalian element. Pertama saya berfikir, mengapa tokoh Saka yang merupakan anak remaja yang buta pengalaman, selalu berprasangka buruk, egois dan terkadang kekanak-kanakan dimunculkan oleh sang Penulis naskah. Lalu apa hebatnya Saka, pengendalian satu element pun tidak bisa, ilmu beladiripun tidak hebat, selalu kalah dengan wanita, satu-satunya andalan Saka adalah Boomerangnya yang memang kerap membantunya saat mereka sedang dalam bahaya. Selebih tidak ada yang signifikan dengan Saka. Sungguh bukan idola anak-anak yang butuh akan hiburan kepahlawan seperti Avatar dan teman-temannya yang lain. Lalu kenapa Saka harus muncul? Apa yang Penulis naskah coba tunjukkan dari Saka? Apakah fungsinya memang hanya untuk membuat lelucon saja, sehingga film ini tidak terkesan monoton dan membosankan?
Ternyata tidak! Saka memerankan fungsi yang sangat penting, sama seperti teman-teman Avatar yang lainnya. Seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya pengalaman dan petualangan mereka, Saka tumbuh menjadi remaja yang mempunyai pemikiran strategic dan brilian. Banyak misi-misi penyelamatan diotaki dan digagas oleh Saka, si remaja egois ini. Bahkan kerap Avatarpun meminta ide-ide Saka sebelum mengambil keputusan. Saya melihat jelas bahwa Penulis mempunyai misi khusus terhadap Saka. Disaat semua teman-teman Avatar mempunyai kekuatan dan keahlian, namun tetap dibutuhkan orang-orang yang mempunyai pemikiran cerdas dan brilian, yang akan mengeluarkan ide-ide segar demi tercapainya misi mereka menyelamatkan dunia.
Saya yakin Penulis cerita ini ingin menunjukkan kepada penontonnya (terutama anak-anak dan remaja) bahwa pemikiran dan ide-ide (atau disebut juga Power of Knowledge dalam pemikiran Post-Modern) mempunyai kekuatan yang sama besar dan pentingnya dengan sebuah skill atau keahlian tertentu bahkan kekuatan otot. Bahwa ide-ide yang brilian adalah salah satu kunci dari kesuksesan dari sebuah perencanaan. Bahwa peranan ide-ide adalah hal yang tak terelakkan dari sebuah perjuangan dan harapan. Bahwa pemikiran dapat mengalahkan kekuatan otot dan senjata. Bahwa pemikiran yang strategis tidak bisa dianggap remeh. Bahwa pemikiran dapat menggulingkan sebuah tampuk kepemimpinan. Bahwa Power of Knowledge adalah sumber kekuatan yang sangat laten dan ampuh.
Inilah yang Penulis coba tularkan kepada penontonnya bahwa walaupun anda tidak mempunyai kekuatan yang super dan mumpuni, namun Power of knowledge tidak dapat dianggap remeh. Pemikiran anda sendiri adalah kekuatan yang tak terbendung. Pemikiranmu adalah senjatamu dan kekuatanmu. Sehingga selama anda yakin dengan diri anda, maka anda mempunyai kekuatan yang sangat besar. Tapi jika tidak, jangan harap anda akan menang. Oleh karena itu yakinlah dan berpikirlah dengan jernih sebelum mengambil tindakan.
