Kerangka Berpikir Arif Apriyadi

Masukan dari Januari 2009

Fatwa Merokok dan Golput Haram : Diduga Sarat akan Pesanan dan Tergesa-gesa?

Januari 26, 2009 · 1 Komentar

rokokDua fatwa terbaru MUI sudah dikeluarkan, yaitu fatwa merokok dan fatwa golput. Walahpun ada kondisi-kondisi yang berlaku terhadap fatwa tersebut, namun dapat disederhanakan bahwa kedua hal tersebut adalah haram. Saya mencoba untuk mengkaji kedua hal tersebut secara sederhana.

Pertama adalah Fatwa merokok. Jelas pada Qur’an dan Hadis tidak secara gamblang menyebut bahwa rokok adalah haram. sehingga dalam melihat rokok ini harus digunakan ijtihad. Kita harus melihat rokok ini dengan proses, mungkin sama dengan perjalanan hukum haram bagi minuman keras. Jika saja rokok mau di-qiyas-kan dengan minuman keras, maka rokok tidak mempunyai efek yang sedemikian cepet terhadap orang yang merokok, seperti misalnya hilang kesadaran, hilangnya akal sehat, dll. lain halnya dengan narkoba dan zat adiktif lainnya, memang mempunyai “nature” yang sangat dekat dengan minuman keras, sehingga dengan mudah dan jelas bahwa narkoba itu haram. Namun rokok tidak mempunyai “nature” yang seperti itu sehingga kurang dapat diterima jika di-qiyas-kan seperti itu.

Jika hendak di-qiyas-kan dengan hal yang lebih banyak buruknya, maka harus dihindari, maka hal ini masih lebih dapat diterima, namun tetap saja tidak semerta-merta langsung diharamkan. Bagaimana jika dibandingkan dengan hal-hal yang lebih banyak buruk dari baiknya, atau untuk lebih gampangnya bagaimana jika dibandingkan dengan hal-hal yang jelas hukumnya adalah makruh (mendekati haram / tidak disukai oleh Allah) seperti misalnya cerai. Cerai jelas disebutkan oleh Allah bahwa tidak disukai, namun tetap diperbolehkan dengan catatan kondisi yang ada. Sehingga jika mau disimpulkan bahwa untuk benda yang lebih banyak buruknya dari baiknya tidak serta merta dapat dibilang haram, namun lebih baik jika dihindari.

Kasus kedua adalah Golput. Nah ini yang lebih lucu saya kira daripada merokok. dalam hukum Islam jelas tidak mengenal demokrasi dan pemilihan umum atau voting. Islam dalam melakukan pemilihan pemimpin lebih mengedepankan kriteria-kriteria pemimpin dan musyawarah. Kita lihat saja dalam cara memilih Imam Sholat, harus dimulai dari kriteria-kriteria yang paling baik.  Sehingga menurut saya agak aneh saja jika saja hal yang tidak dikenal bahkan tidak direkomendasikan oleh ajaran Islam, namun derivatif dari hal tersebut difatwa haram.

Yang lebih tidak masuk akal lagi adalah, Golput adalah berhubungan dengan penggunaan hak memilih dari orang yang sudah mencapai kriteria. Sehingga golput “nature”-nya atau dasarnya adalah hak dan hak melekat kepada si pemilik hak, apakah dia mau mempergunakannya atau tidak. Sehingga jika hak seperti itu tidak bisa dipaksakan harus memilih, jika dipaksakan, maka hukumnya bukan hak lagi, namun peraturan, peraturan bahwa setiap warga negara dengan kriteria tertentu harus memilih. Dengan begitu hal tersebut sangat bertentangan dengan “mother nature” dari pemilu, yaitu LUBER (langsung, umum, bebas, rahasia). Bebas, yaitu bebas memilih, bebas memilih yaitu bebas mau memilih atau tidak memilih sama sekali alias golput. Kalu MUI mau memfatwa Golput haram, kenapa gak ajukan saja perubahan terhadap azas pemilu yang LUBER itu ke pemerintah? Atau sekalian ubah sistemnya bukan pemilu tapi musyawarah misalkan.

Namun diluarkan itu semua ada hal yang paling menakutkan, yaitu tujuan dari dikeluarkannya fatwa ini. Jika saja karena adanya pesanan dari pihak manapun, maka hal ini menjadi sangat menakutkan. Jika melihat isi dan modus dari kedua fatwa itu, jelas sarat akan pesanan. Entah siapa yang memesan dan mendapat imbalan apa dari pesanan tersebut, namun hal ini menjadi mengerikan jika sebuah lembaga yang sangat dijunjung tinggi oleh umat Islam dalam menegakkan ajaran Islam dapat diselewengkan dengan cara-cara yang kurang baik. Semoga tidak. Namun siapa yang dapat memberikan jaminan akan hal tersebut?

Mengenai pelaksanaannya, terserah kepada masyarakat, mau mengikutinya atau tidak. Namun toh ini hanya ijtihad, jika benar dapat point satu, jika salah juga mendapat poin satu. Kalau benar entar diakhirat dapat tambahan point lagi. Jadi menurut saya tidak perlu mengkhawatirkan hal tersebut. Mungkin dapat di-ijtihad-kan lagi dengan sunggug-sungguh karena iman kepada Allah, salah atau benar dapat point, asal niatnya satu.

Kategori: Critics · Idea · Opini · Opinion · Thought · kritik
Ditandai: ,

Expect Less, Doubt More to Barrack Obama

Januari 17, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Mungkin bisa dibilang bahwa dunia saat ini sedang menunggu hari-hari pelantikan presiden negara “adikuasa”. 3 hari lagi maka sejarah bagi Amerika dan bagi dunia, untuk pertama kalinya mempunyai presiden dari kalangan afro-american alias kulit hitam. Ditambah lagi dengan bumbu “kedekatan” presiden Amerika terpilih ini dengan kalangan islam.

Untuk orang-orang Indonesia sendiri, Obama mempunyai catatan “manis” tersendiri di bilangan Menteng, sehingga alih-alih masyarakat Indonesia berharap “banyak” Obama dapat memberikan keuntungan khusus bagi negara Indonesia.

Tapi belum tentu begitu bagi Obama. Mungkin saja menurutnya pengalaman tinggal di Indonesia adalah sebuah “kepahitan”. Obama walaupun sempat tinggal di Indonesia, tetap saja kewarganegaraannya adalah Amerika. Walaupun di mempunyai keluarga tiri di Jakarta, tidak cukup kuat alasan dia untuk membela Indonesia. Darahnya tetap berwarna merah putih biru, bukan hanya merah putih.

Begitu juga dengan harapan akan kedekatannya dengan Islam. Banyak orang berharap bahwa dengan terpilihnya Obama, maka keadaan di Timur Tengah mungkin bisa lebih dingin dan tentram. Dia memang kenal dekat dengan orang beragama Islam, tapi menurut saya tidak cukup alasan juga baginya untuk membela atau setidaknya mendukung Islam.

Kita lihat saja pada peristiwa penyanderaan terhadap tamu sebuah hotel di India oleh kelompok teroris, Obama, walaupun belum resmi menjadi presiden, berani angkat bicara dan mengutuk hal tersebut. Namun ketika Israel menyerang Palestina, dimana sungguh merupakan hal yang jauh lebih keji dan kejam, tak satu kata pun keluar dari mulut Obama. Bicara aja boleh dong Obama, gak ada yang larang. Hal ini membuktikan bahwa kecil harapannya untuk Obama bisa sedikit berpihak ke Timur Tengah.

Kepresidenan Amerika bukan semata bicara mengenai individu, tapi adalah bicara mengenai sistem yang sangat besar. Obama adalah ibarat pena, dia hanyalah mata pena, tapi penyokong dia, tinta dan tubuh pena tersebutlah yang membuat dia jadi bermakna. Bukan pena namanya tanpa tinta. Tintanya adalah rakyat Amerika dan tubuh pena adalah negaranya. Jadi apa yang di keluarkan dari mata pena adalah tinta masyarakat Amerika, yang notabene kita sudah ketahui bersama bagaimana dukungan dan sikapnya terhadap Israel.

Jadi jika memang ingin menghentikan Israel memang sangat sulit karena PBB-pun tidak bisa berbuat apa-apa tanpa restu Amerika Serikat dan sekutunya Inggris. Coba saja lihat, markas PBB di Palestina terkena bom, tidak ada tindakan apa-apa dari PBB. bahkan hari ini saya dengar berita bahwa bom Israel kembali mengenai sekolah PBB. sungguh lucukan. PBB hanya terdiam membisu.

Bagaimana tidak lucu, Irak yang notabene baru dicurigai mempunyai senjata pemusnah masal, sudah langsung diserang oleh PBB melalui Amerika Serikat dan Inggris (yang sampai sekarang tidak terbukti). Iran yang juga masih dicurigai akan membuat senjata nuklir sudah langsung terkena berbagai embargo dan kecaman dari PBB (padahal Amerika dan Inggris juga punya senjata nuklir). Nah sekarang Israel yang jelas-jelas terbukti bersalah melakukan serangan tanpa pikir ke negeri orang dan membunuh ribuan orang, PBB kok diam saja.

Iya memang benar PBB telah mengeluarkan 2 resolusi, tapi apa artinya resolusi tanpa ada upaya pemaksaan dari PBB agar Israel mematuhinya. Bahkan 2 gedungnya di bom tidak melakukan tindakan apa-apa. Ini khan sungguh aneh.

Kita tunggu saja 3 hari lagi, apa tindakan Obama terhadap Israel – Palestina. tapi saran saya adalah “expect less, doubt more to Obama”

Kategori: Critics · Opini · Opinion · kritik
Ditandai: ,

Perubahan Jam Masuk Sekolah : Kebijakan “Pertama” Gubernur Kita, Apakah Jitu?

Januari 12, 2009 · 1 Komentar

Setahun lebih kiranya Gubernur kita memimpin Jakarta. Namun bukan tanpa beralasan jika saya bilang “akhirnya” keluar juga sesuatu yang original dari Bang Fauzy Bowo, tapi memang warga Jakarta telah lama menunggu sesuatu yang original dari Gubernur kita ini, bukan hanya sekedar “meneruskan” warisan program Gubernur terdahulu.

Mulai minggu kemarin, tepatnya tanggal 5 Januari 2009, Bang Fauzy Bowo resmi merubah jam masuk sekolah menjadi setengah jam lebih cepat, yaitu jam 06.30. Dengan alasan untuk mengurangi kemacetan di Jakarta yang terkonsentrasi pada jam 7 pagi. Kemudian setelah “sukses” mengeluarkan kebijakannya yang “pertama” kemudian Gubernur kita ini tampaknya ketagihan mengeluarkan kebijakan, sehingga kemudian beliau juga menghimbau kepada pihak industri dan perkantoran untuk merubah juga jam kerjanya, lagi-lagi dengan alasan untuk mengurangi kemacetan di Jakarta.

Saya melihat kebijakan Gubernur kita ini menjadi 2 hal, yaitu baik namun tidak tepat alias salah sasaran dan rencana. Baik karena saya selalu mendukung agar semua orang memulai kegiatannya setelah azan subuh berkumandang, dimana pagi hari selalu memberikan kesegaran dan semangat yang baik. Namun salah sasaran dan rencana karena kebijakan ini tidak menyentuh sedikitpun akar permasalahan dari kemacetan di Jakarta.

Tentu kita semua sudah tahu kemacetan di Jakarta lebih disebabkan karena begitu banyaknya warga Jakarta yang menggunakan kendaraan pribadi lebih besar dari pada pengguna kendaraan umum. Ditambah dengan sedikitnya pertambahan panjang jalan di Jakarta membuat hal ini ramuan yang sempurna untuk menciptakan kemacetan. Penggunaan kendaraan pribadi disebabkan oleh sangat buruknya kualitas angkutan umum masal di Jakarta ini dari berbagai segi, baik itu kenyamanan, keamanan, ketepatan waktu, dan jumlah armada angkutan itu sendiri.

Oleh karena itu akan lebih bijak jika Bang Fauzy Bowo lebih memperhatikan kepada pembenahan angkutan umum masal yang sangat fundamental dari pada mengubah jam masuk sekolah dan pekerja yang pengaruh sangat tidak langsung terhadap pemecahan masalah kemacetan.

Akhirnya saya menjadi sangat sedih terhadap kebijakan “pertama” Gubernur kita ini. Akan lebih baik jika beliau tetap saja “meneruskan” warisan Gubernur kita terdahulu, seperti pembenahan busway, penyelesaian dengan segera monorail, terus mengupayakan studi tentang pewujudan subway di Jakarta, revitalisasi jalur-jalur KRL, pembenahan dan peremajaan angkutan bus, metromini, dan angkutan mikro lainnya.

Kategori: Critics · Opini · Opinion · kritik
Ditandai: ,