Kerangka Berpikir Arif Apriyadi

Membangun Sebuah Citra Negara Lewat Race Formula 1

Oktober 13, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Masih belum hilang dari ingatan kita bahwa pada seminggu yang lalu telah diadakan balapan Formula 1 yang pertama kali di dunia yang diadakan pada malam hari (meski bukan balapan malam pertama di dunia). Mungkin anda juga orang yang sama seperti saya tidak mau melewatkan peristiwa bersejarah ini. Bagi anda yang menyaksikan melalui televisi, anda sebenarnya adalah orang paling beruntung. Karena kamera televisi yang dipasang diberbagai sudut dan berbagai angle memanjakan anda untuk tidak melewatkan satu moment pun dalam balapan tersebut.

Sementara untuk yang berada langsung di pinggir sirkuit yang sehari-hari adalah jalanan umum di kawasan marina bay, apa yang ditangkap? Dengan kecepatan mobil yang lebih dari 300 km/jam, maka mobil hanya dalam hitungan detik dapat anda lihat untuk setiap lapnya. Sehingga sebenarnya anda tidak benar-benar menonton balapan tersebut jika dibandingkan dengan orang yang menonton melalui televisi. Lalu apa yang sebenarnya dicari oleh dan dinikmati dari ratusan ribu orang dari segala penjuru dunia ini? Ditambah dengan harga tiket yang harga termurahnya adalah sekitar 130 Dollar Singapura, tampak sangat tidak setimpal dengan hanya menyaksikan mobil yang ikut balapan dengan hanya beberapa detik saja. Pengalaman, itulah intinya. Iya, prinsip dasarnya adalah bahwa manusia bereksistensi melalui pengalaman dan dunia konsumsi ingin masuk pada wilayah pengalaman itu sampai pada tingkat “Saya berada di ajang Formula 1, maka say ada”. Tak peduli apakah disitu anda benar-benar bisa menonton detail laju mobil atau hanya bersuka ria dengan kaos dan topi tim kesayangan anda.

Sebenarnya balapan yang digelar di Singapura ini bukan inti dari acara tersebut. Intinya adalah ini merupakan pesta, life style, dan perdagangan. Iya ini lebih kepada gengsi dan prestise dan penumpukan devisa. Tidak peduli berapa besar biaya yang dikeluarkan untuk menjamin menyalanya 1400 lampu yang menerangi jalanan yang dilewati balapan, karena pada malam itu juga semua biaya yang dikeluarkan akan tergantikan, malah lebih. Bahkan panitia sudah memperhitungkan bahwa event ini akan memberikan pemasukan 100 juta Dollar Singapura. Fantastis bukan!

Lalu dimana sisi prestise-nya? Balapan ini mengambil lokasi disekitar Marina Bay yang merupakan lokasi kebanggaan masyarakat Singapura. Marina Bay merupakan sebuah ruang dan sebuah kota yang sedang mendialogkan dirinya dengan suatu event untuk menegaskan keberadaan dirinya sebagai kawasan konsumsi terpenting di Asia Tenggara. Hal ini seperti yang dikatakan oleh PM Singapura, Lee Hsien Loong, dia mengakui takjub melihat citra bagaimana Benjamin Sheares Bridge lalu lintas berjalan seperti biasa, sementara dijalanan dibawahnya mobil-mobil balap F1 sedang melaju. Sungguh pemandangan unik dan hanya di jumpai disedikit kota di dunia. Ini akan menciptakan publikasi di seluruh penjuru dunia yang akan menguntungkan Singapura dalam banyak hal. Publikasi dan citra, adakah yang bisa menyangkal signifikansi hal tersebut di tengah masyarakat konsumsi sekarang?

Saya sejenak menjadi teringat dengan rencana Indonesia untuk membangun sirkuit di Bali. Entah apa yang menghambat pemerintah dan para pemodal untuk mewujudkan hal tersebut. Bukankah sudah terbukti keuntungan yang bisa didapat dari sebuah event yang hanya berlangsung beberapa jam itu? Bayangkan, jika saja sirkuit tersebut diletakan persis dipinggir pantai terindah dunia, maka perekonomian pantai akan terdongkrak maju. Mulai dari marina, hotel, pariwisata dan bisnis souvenir akan meledak disini. Ditambah dengan pesan dan citra yang timbul dari event tersebut bagi Indonesia dan Bali. Belum lagi pemacuan industri pariwisata Bali akan semakin baik sebagai kota dan pulau surga wisata dan kebudayaan. Kemudian berapa bakat dalam negeri yang bisa dipupuk dan dibina pada sirkuit tersebut. Bukan mustahil akan lahir Louis Hamilton berdarah merah putih dengan adanya sirkuit tersebut.

Ada juga yang memandang, untuk apa membangun sirkuit di Bali, disaat penduduk Bali pun masih banyak yang tidak menentu. Ini adalah pandangan yang salah menurut saya. Justru inilah cara yang sangat bagus untuk membangun Bali sebagai industri hiburan, wisata dan kebudayaan. Saya yakin, jika Singapura sengaja menggelar event untuk menunjukkan kemodernan Kota Singapura, justru Indonesia, dan dalam hal ini Bali, punya nilai jual yang lebih, yaitu modern namun tetap unik dengan kebudayaan Bali yang indah dan menawan, dan seluruh dunia telah mengakui keindahan budaya Bali. Inilah pencitraan yang bisa dibangun bagi Bali dan bagi Indonesia. Oleh karena itu, mari dukung pewujudan Sirkuit kelas International GP F1 di Bali!

Kategori: kritik

0 responses so far ↓

  • There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.