Kerangka Berpikir Arif Apriyadi

Presiden : Sibuk Menenangkan Pasar Modal, Lupa Pasar Komoditas Minyak yang Sudah Turun

Oktober 9, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Krisis Ekonomi makin menjadi di Amerika Serikat. Tidak hanya negara-negara Eropa saja yang terpengaruh oleh krisis AS. Negara-negara Eropapun cukup besar terkena imbasnya dan bahkan seluruh dunia tidak ada yang luput dari imbas Krisis Ekonomi AS ini. Bahkan dalam keterangannya, lembaga keuangan dunia, IMF, menyatakan bahwa resesi ekonomi yang sedang terjadi ini adalah resesi global dan besar. Bahkan IMF memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi dunia akan drastis melambat.

Harga barang-barang komoditipun tidak luput dari imbas resesi global ini. Hal ini disebabkan oleh melemahnya daya beli seluruh dunia akibat ketatnya likuiditas dunia. Bahkan sumber energi utama duniapun ikut terlibas jatuh dibawah harga 90 USD per barel.

Sudah lebih dari 2 minggu harga minyak di bawah 100 USD per barel. Dan pada minggu ini adalah kejatuhannya yang terdalam semenjak mencapai puncaknya di harga 145 USD per barel pada bulan Juli lalu. Posisi lemahnya harga jual minyak dunia diprediksi akan berlangsung cukup lama, mengingat resesi global yang sangat besar memukul daya beli dunia terhadap minyak, dan memilih untuk sementara waktu mengurangi konsumsi minyaknya.

Dengan demikian, dapat terlihat bahwa harga minyak dunia akan berada pada posisi lemah di bawah 90 – 100 USD per barel untuk jangka waktu yang cukup lama. Pada kondisi dalam negeri, sewaktu akhir tahun 2007 posisi harga minyak juga berada pada kisaran tersebut. Barulah pada awal 2008 harga minyak merangkak naik seiiring dengan keputusan negara-negara OKI yang tidak akan menambah suplai minyak ke depan. Atas alasan tingginya harga minyak yang sudah tidak memungkinkan untuk di cover oleh APBN kita maka presiden SBY memutuskan menaikkan harga minyak.

Namun saat ini kondisinya sudah berbeda, harga minyak sudah kembali menurun, bahkan sudah kembali ke posisi semula. Namun kenapa kok seolah-olah Presiden SBY dan para menterinya seakan tidak pernah memantau kembali harga minyak, sehingga tidak menyadari harga minyak yang telah kembali pada posisi dibawah 90 USD per barel. Seharusnya jika kita ingat dengan ucapan Presiden SBY yang akan menurunkan harga BBM jika terjadi penurunan harga minyak dunia, maka seharusnya harga BBM kita sudah turun sejak minggu lalu, setidaknya kembali lagi ke harga sebelum naik. Namun tidak ada tanda-tanda untuk hal itu.

Dengan demikian, ini sama saja kita dibohongi oleh negara. Untuk posisi saat ini sama saja negara tidak mensubsidi BBM karena dengan turunnya harga miyak dunia berarti turun juga cost production dari BBM. Jangan sampai isu resesi global ini membutakan mata kita dari kenyataan harga minyak.

Kategori: Critics · Opinion
Tagged: ,

0 responses so far ↓

  • There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.