Dalam sebuah pembuatan iklan, hal pertama yang harus dipikirkan oleh advertiser pasti adalah bagaimana khalayak umum akan tertarik melihat iklan tersebut. Maka dengan segala daya upaya dikerahkan oleh para advertiser untuk membuat iklan yang benar-benar eye cacthing dan selalu diingat orang. Seperti misalnya dengan membuat iklan yang sangat lucu, atau dengan membuat iklan dengan efek-efek khusus sehingga menimbulkan aksi-aksi stunt yang menawan, atau juga dengan plot wawancara dengan para customer-nya atau bahkan dengan menampilkan hasil riset dan statistik.
Yang menarik adalah cara pengiklanan yang terakhir, menampilkan iklan dengan hasil riset dan statistik yang dapat menimbulkan kesan scientific dan proven dengan hasil penelitian sehingga akan menimbulkan efek “percaya” oleh pelanggan dari suatu produk atau jasa yang diiklankan. Namun sayangnya, tidak ada juga yang bisa membuktikan atau setidaknya meyakinkan bahwa hasil riset atau statistik yang ditampilkan adalah valid dan benar adanya. Bahkan terkadang hasil riset dan statistik itu merupakan hasil riset terbatas yang tidak applicable terhadap semua keadaan, namun ditampilkan pada iklan bahwa hal tersebut merupakan hasil yang applicable untuk khalayak umum.
Hal ini tentu sangat berbahaya jika konsumen tidak mengolah lagi hasil riset atau statistik tersebut dan percaya begitu saja terhadap apa yang diiklankan. Bukan tidak mungkin malah akan mengancam keselamatan dan jiwa konsumen. Seperti misalnya iklan pemanis buatan, pada iklan tersebut disebutkan bahwa untuk orang yang mempunyai lingkar pinggang lebih dari 4 jengkal akan memiliki kecenderungan untuk menderita diabetes. Hal ini jelas akan menimbulkan persepsi yang sangat lebar dari masyarakat, bahkan dapat menimbulkan mispersepsi. Bisa saja orang awan yang memiliki lingkar pinggang lebih dari 4 jengkal langsung percaya terhadap iklan tersebut dan mengambil tindakan untuk diet gula dan mengkonsumsi produk tersebut. Padahal dengan mengkonsumsi produk tersebut saja saya yakin tidak akan berpengaruh besar terhadap proses pengecilan lingkar pinggang jika tidak dibarengi dengan olah raga yang teratur. Selain itu, dari mana datangnya riset mengenai korelasi lebar pinggang dengan diabetes itu tidak dijelaskan oleh advertiser, siapa yang melakukan, dimana, kapan, dan bagaimana sampling dari riset itu dilakukan serta bagaimana keadaan dari sampler yang digunakan. Ini yang sangat membahayakan, tidak ada badan satupun yang mengontrol atas kevalidan “statement riset” yang dikeluarkan dalam iklan tersebut.
Contoh lain misalnya adalah iklan sebuah susu ibu hamil (saya lupa namanya) yang menampilkan statistik bahwa 3 dari 5 ibu hamil kekurangan folat yang sangat berbahaya menimbulkan cacat otak pada bayi. Coba kita telaah lagi, 3 dari 5 ibu hamil, ibu hamil dimana, apakah untuk Jakarta saja, Indonesia, Asia, atau bahkan dunia? Kapan dilakukannya riset tersebut? Bagaimana sampling yang dilakukan? Dan berapa besar error rate dari statistik tersebut, apakah masih masuk dalam kategori error yang baik untuk sebuah hasil statistik? Kemudian jika kita teliti lagi dari statistik tersebut, misal samplingnya adalah ibu-ibu hamil di Jakarta saja, berarti 3/5 dari ibu hamil Jakarta kekurangan folat, dan misal jika kemungkinan dari ibu-ibu yang kekurangan folat tersebut adalah 50% (kemungkinan haruslah besar, kalo tidak akan mengurangi esensi dari penelitian tersebut) maka jika misal dari 10 ibu hamil yang kekurangan folat tersebut dimasukkan ke dalam kemungkinan tersebut, maka mungkin saja 5 bayi yang dilahirkan menderita cacat otak. Jika saja dalam 1 tahun ada sekitar 100 ribu ibu hamil, maka 50 ribu bayi di Jakarta bisa saja dilahirkan cacat otak. Jika hal tersebut benar-benar terjadi, bagaimana mungkin Bang Fauzy Bowo tidak mencanangkan hal tersebut sebagai bencana nasional? Bagaimana mungkin departemen kesehatan tinggal diam?
Kemudian yang harus diperjelas lagi dari statistik folat tadi adalah, apakah benar ada riset atau ilmu pengetahuan yang membuktikan bahwa kekurangan folat akan menimbulkan cacat otak pada bayi. Seberapa besar kadar kekurangan folat yang dapat menimbulkan cacat dan seberapa besar yang tidak akan menimbulkan cacat, kemudian dari mana hal tersebut dikutip dan kapan hal tersebut dicetuskan. Semua hal tersebut adalah hal yang benar-benar harus dijelaskan pada masyarakat, sehingga masyarakat tidak tertipu oleh apa yang ditampilkan pada iklan tersebut sehingga mungkin saja dapat menimbulkan bahaya bagi masyarakat.
Seharusnya ada sebuah regulasi yang mengatur tentang periklanan dan keselamatan konsumen. Sehingga produsen tidak seenaknya membuat iklan tanpa adanya bukti-bukti otentik yang jelas dan valid. Kemudian setelah adanya regulasi yang melindungi konsumen, harus ada badan yang berada dibawah naungan departemen yang mengontrol penerapan regulasi tersebut (perlu diingat, YLKI bukan badan pemerintah, sehingga tidak akan memiliki kekuatan memaksa bagi produsen, hal paling besar bisa dilakukan YLKI adalah menghimbau masyarakat, hal tersebutpun dirasa kurang). Sehingga jika ada iklan yang menampilkan hasil riset dan statistik harus mencantumkan sumbernya, error rate-nya (jika merupakan statistik), samplingnya, dan berlaku untuk siapa serta harus dilakukan pemeriksaan terhadap kevalidan hasil riset dan statistik tersebut oleh badan pengawas tadi, dari mana sumbernya dll. Dengan kata lain, iklan yang beredar haruslah sudah lolos uji keselamatan dan kevalidan bagi konsumen, sehingga tidak ada konsumen yang dapat dirugikan dan dibohongi atau bahkan dibahayakan keselamatannya.
1 response so far ↓
adhlin // Agustus 20, 2008 pada 5:21 am |
Woi…………..
mau merambah dunia iklan kaw??
dah isi belum ??
Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.