Kerangka Berpikir Arif Apriyadi

Masukan dari Juli 2008

Pentingnya Regulasi dan Badan Periklanan: Sebuah penelaahan Iklan Produk yang Menampilkan Hasil Riset dan Statistik

Juli 27, 2008 · 1 Komentar

Dalam sebuah pembuatan iklan, hal pertama yang harus dipikirkan oleh advertiser pasti adalah bagaimana khalayak umum akan tertarik melihat iklan tersebut. Maka dengan segala daya upaya dikerahkan oleh para advertiser untuk membuat iklan yang benar-benar eye cacthing dan selalu diingat orang. Seperti misalnya dengan membuat iklan yang sangat lucu, atau dengan membuat iklan dengan efek-efek khusus sehingga menimbulkan aksi-aksi stunt yang menawan, atau juga dengan plot wawancara dengan para customer-nya atau bahkan dengan menampilkan hasil riset dan statistik.

Yang menarik adalah cara pengiklanan yang terakhir, menampilkan iklan dengan hasil riset dan statistik yang dapat menimbulkan kesan scientific dan proven dengan hasil penelitian sehingga akan menimbulkan efek “percaya” oleh pelanggan dari suatu produk atau jasa yang diiklankan. Namun sayangnya, tidak ada juga yang bisa membuktikan atau setidaknya meyakinkan bahwa hasil riset atau statistik yang ditampilkan adalah valid dan benar adanya. Bahkan terkadang hasil riset dan statistik itu merupakan hasil riset terbatas yang tidak applicable terhadap semua keadaan, namun ditampilkan pada iklan bahwa hal tersebut merupakan hasil yang applicable untuk khalayak umum.

Hal ini tentu sangat berbahaya jika konsumen tidak mengolah lagi hasil riset atau statistik tersebut dan percaya begitu saja terhadap apa yang diiklankan. Bukan tidak mungkin malah akan mengancam keselamatan dan jiwa konsumen. Seperti misalnya iklan pemanis buatan, pada iklan tersebut disebutkan bahwa untuk orang yang mempunyai lingkar pinggang lebih dari 4 jengkal akan memiliki kecenderungan untuk menderita diabetes. Hal ini jelas akan menimbulkan persepsi yang sangat lebar dari masyarakat, bahkan dapat menimbulkan mispersepsi. Bisa saja orang awan yang memiliki lingkar pinggang lebih dari 4 jengkal langsung percaya terhadap iklan tersebut dan mengambil tindakan untuk diet gula dan mengkonsumsi produk tersebut. Padahal dengan mengkonsumsi produk tersebut saja saya yakin tidak akan berpengaruh besar terhadap proses pengecilan lingkar pinggang jika tidak dibarengi dengan olah raga yang teratur. Selain itu, dari mana datangnya riset mengenai korelasi lebar pinggang dengan diabetes itu tidak dijelaskan oleh advertiser, siapa yang melakukan, dimana, kapan, dan bagaimana sampling dari riset itu dilakukan serta bagaimana keadaan dari sampler yang digunakan. Ini yang sangat membahayakan, tidak ada badan satupun yang mengontrol atas kevalidan “statement riset” yang dikeluarkan dalam iklan tersebut.

Contoh lain misalnya adalah iklan sebuah susu ibu hamil (saya lupa namanya) yang menampilkan statistik bahwa 3 dari 5 ibu hamil kekurangan folat yang sangat berbahaya menimbulkan cacat otak pada bayi. Coba kita telaah lagi, 3 dari 5 ibu hamil, ibu hamil dimana, apakah untuk Jakarta saja, Indonesia, Asia, atau bahkan dunia? Kapan dilakukannya riset tersebut? Bagaimana sampling yang dilakukan? Dan berapa besar error rate dari statistik tersebut, apakah masih masuk dalam kategori error yang baik untuk sebuah hasil statistik? Kemudian jika kita teliti lagi dari statistik tersebut, misal samplingnya adalah ibu-ibu hamil di Jakarta saja, berarti 3/5 dari ibu hamil Jakarta kekurangan folat, dan misal jika kemungkinan dari ibu-ibu yang kekurangan folat tersebut adalah 50% (kemungkinan haruslah besar, kalo tidak akan mengurangi esensi dari penelitian tersebut) maka jika misal dari 10 ibu hamil yang kekurangan folat tersebut dimasukkan ke dalam kemungkinan tersebut, maka mungkin saja 5 bayi yang dilahirkan menderita cacat otak. Jika saja dalam 1 tahun ada sekitar 100 ribu ibu hamil, maka 50 ribu bayi di Jakarta bisa saja dilahirkan cacat otak. Jika hal tersebut benar-benar terjadi, bagaimana mungkin Bang Fauzy Bowo tidak mencanangkan hal tersebut sebagai bencana nasional? Bagaimana mungkin departemen kesehatan tinggal diam?

Kemudian yang harus diperjelas lagi dari statistik folat tadi adalah, apakah benar ada riset atau ilmu pengetahuan yang membuktikan bahwa kekurangan folat akan menimbulkan cacat otak pada bayi. Seberapa besar kadar kekurangan folat yang dapat menimbulkan cacat dan seberapa besar yang tidak akan menimbulkan cacat, kemudian dari mana hal tersebut dikutip dan kapan hal tersebut dicetuskan. Semua hal tersebut adalah hal yang benar-benar harus dijelaskan pada masyarakat, sehingga masyarakat tidak tertipu oleh apa yang ditampilkan pada iklan tersebut sehingga mungkin saja dapat menimbulkan bahaya bagi masyarakat.

Seharusnya ada sebuah regulasi yang mengatur tentang periklanan dan keselamatan konsumen. Sehingga produsen tidak seenaknya membuat iklan tanpa adanya bukti-bukti otentik yang jelas dan valid. Kemudian setelah adanya regulasi yang melindungi konsumen, harus ada badan yang berada dibawah naungan departemen yang mengontrol penerapan regulasi tersebut (perlu diingat, YLKI bukan badan pemerintah, sehingga tidak akan memiliki kekuatan memaksa bagi produsen, hal paling besar bisa dilakukan YLKI adalah menghimbau masyarakat, hal tersebutpun dirasa kurang). Sehingga jika ada iklan yang menampilkan hasil riset dan statistik harus mencantumkan sumbernya, error rate-nya (jika merupakan statistik), samplingnya, dan berlaku untuk siapa serta harus dilakukan pemeriksaan terhadap kevalidan hasil riset dan statistik tersebut oleh badan pengawas tadi, dari mana sumbernya dll. Dengan kata lain, iklan yang beredar haruslah sudah lolos uji keselamatan dan kevalidan bagi konsumen, sehingga tidak ada konsumen yang dapat dirugikan dan dibohongi atau bahkan dibahayakan keselamatannya.

Kategori: Critics · Idea · Opinion · Thought
Ditandai: , , ,

Sisi Lain dari Film Avatar The Legend of Aang: Film dengan Political Representative

Juli 2, 2008 · & Komentar

Bulan Juli ini adalah musim liburan anak-anak sekolah. Kebetulan juga pada bulan Juli ini saya mengambil cuti panjang, sehingga ada waktu luang menemani keponakan-keponakan saya dalam menonton film kartun kesayangannya. Sudah beberapa hari ini saya menonton film Avatar bersama keponakan saya. Walaupun film Avatar yang disiarkan di Global TV adalah ulangan (tepatnya sudah puluhan kali diulang), tapi masih cukup seru kok untuk ditonton lagi (ini menurut para keponakan saya). Karena sudah beberapa hari menonton, saya jadi cukup memperhatikan kawanan Avatar ini. Sampai pada Book 3 perkawanan Avatar berjumalah 5 orang, Aang, kitara, zuko, Saka dan 1 orang teman Avatar lainnya (saya lupa namanya).

Aang adalah seorang Avatar yang menguasai semua pengendalian element. Kitara adalah seorang gadis dari suku air yang menguasai pengendalian air, 1 orang gadis buta dari suku tanah yang menguasai pengendalian tanah, Zuko adalah seorang pangeran anak dari raja api yang menguasai pengendalian api, serta Saka dari suku air yang merupakan kakak dari Kitara yang tidak menguasai satupun pengendalian element. Pertama saya berfikir, mengapa tokoh Saka yang merupakan anak remaja yang buta pengalaman, selalu berprasangka buruk, egois dan terkadang kekanak-kanakan dimunculkan oleh sang Penulis naskah. Lalu apa hebatnya Saka, pengendalian satu element pun tidak bisa, ilmu beladiripun tidak hebat, selalu kalah dengan wanita, satu-satunya andalan Saka adalah Boomerangnya yang memang kerap membantunya saat mereka sedang dalam bahaya. Selebih tidak ada yang signifikan dengan Saka. Sungguh bukan idola anak-anak yang butuh akan hiburan kepahlawan seperti Avatar dan teman-temannya yang lain. Lalu kenapa Saka harus muncul? Apa yang Penulis naskah coba tunjukkan dari Saka? Apakah fungsinya memang hanya untuk membuat lelucon saja, sehingga film ini tidak terkesan monoton dan membosankan?

Ternyata tidak! Saka memerankan fungsi yang sangat penting, sama seperti teman-teman Avatar yang lainnya. Seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya pengalaman dan petualangan mereka, Saka tumbuh menjadi remaja yang mempunyai pemikiran strategic dan brilian. Banyak misi-misi penyelamatan diotaki dan digagas oleh Saka, si remaja egois ini. Bahkan kerap Avatarpun meminta ide-ide Saka sebelum mengambil keputusan. Saya melihat jelas bahwa Penulis mempunyai misi khusus terhadap Saka. Disaat semua teman-teman Avatar mempunyai kekuatan dan keahlian, namun tetap dibutuhkan orang-orang yang mempunyai pemikiran cerdas dan brilian, yang akan mengeluarkan ide-ide segar demi tercapainya misi mereka menyelamatkan dunia.

Saya yakin Penulis cerita ini ingin menunjukkan kepada penontonnya (terutama anak-anak dan remaja) bahwa pemikiran dan ide-ide (atau disebut juga Power of Knowledge dalam pemikiran Post-Modern) mempunyai kekuatan yang sama besar dan pentingnya dengan sebuah skill atau keahlian tertentu bahkan kekuatan otot. Bahwa ide-ide yang brilian adalah salah satu kunci dari kesuksesan dari sebuah perencanaan. Bahwa peranan ide-ide adalah hal yang tak terelakkan dari sebuah perjuangan dan harapan. Bahwa pemikiran dapat mengalahkan kekuatan otot dan senjata. Bahwa pemikiran yang strategis tidak bisa dianggap remeh. Bahwa pemikiran dapat menggulingkan sebuah tampuk kepemimpinan. Bahwa Power of Knowledge adalah sumber kekuatan yang sangat laten dan ampuh.

Inilah yang Penulis coba tularkan kepada penontonnya bahwa walaupun anda tidak mempunyai kekuatan yang super dan mumpuni, namun Power of knowledge tidak dapat dianggap remeh. Pemikiran anda sendiri adalah kekuatan yang tak terbendung. Pemikiranmu adalah senjatamu dan kekuatanmu. Sehingga selama anda yakin dengan diri anda, maka anda mempunyai kekuatan yang sangat besar. Tapi jika tidak, jangan harap anda akan menang. Oleh karena itu yakinlah dan berpikirlah dengan jernih sebelum mengambil tindakan.

Kategori: Film
Ditandai:

Kenaikkan Harga Gas Elpiji: Inkonsistensi Pemerintah Kita?

Juli 1, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Bah,  ada apalagi dengan pemerintah kita? Hari ini Gas elpiji Tabung 12Kg mengalami kenaikan harga. Walaupun Gas Elpiji tabung 3Kg tidak ikut naik, tapi tetap saja menurut saya pemerintah kita memang masih dalam keadaan bingung (baca : linglung) dengan kebijakannya. Bagaimana tidak, masih jelas dalam ingatan saya pemerintah melakukan konversi dari penggunaan minyak tanah ke gas elpiji terhadap rakyat dengan kategori menengah ke bawah dengan alasan untuk mengurangi beban subsidi pemerintah terhadap minyak tanah dan gas yang lebih murah bagi rakyat, eh kok sekarang mengeluarkan kebijakan yang bertentangan dengan kampanye konversi minyak tanah mereka. Walaupun memang tabung gas dengan 3Kg tidak ikut naik, tapi tetap tidak dapat dipungkiri pengguna gas dengan tabung 12Kg tetap ada dari kalangan menengah ke bawah.

Dengan begitu, ada kemungkinan (dan menurut saya cukup besar) dengan naiknya gas dengan tabung 12Kg, para pengguna gas tersebut akan beralih ke minyak tanah. Pendapat saya bukannya tidak mendasar, anak SMA-pun tau jika ada 2 barang yang saling mensubstitusi (dalam hal ini minyak tanah dan gas), sehingga jika terdapat satu barang substitusi naik (dalam hal ini gas) maka barang substitusi yang lain permintaannya akan bertambah (dalam hal ini minyak tanah). Dengan begitu program konversi gas ini seakan dibuat mengambang oleh pemerintah.

Saya menilai kenaikan harga gas ini lebih kepada profit oriented dari pemerintah, karena tidak ada alasan yang mendasar dari pemerintah untuk menaikkan harga gas. Indonesia adalah salah satu penghasil gas terbesar di dunia, hal ini jelas memberikan keuntungan bagi kita untuk menggunakan gas, karena produksi berlimpah. Hal ini pun yang menjadi alasan pemerintah saat melakukan konversi ke gas. Tapi kok malah pemerintah menelan ludahnya sendiri yah? Sangat membingungkan.

Gas adalah isu yang minor dikalangan rakyat kecil, dan resistensi terhadap kenaikan gas cukup kecil sehingga memberikan keleluasan bagi pemerintah untuk menaikkan harga gas. Toh tidak terlalu berisiko tinggi. Tapi ini malah akan menjadi boomerang bagi pemerintah. Dengan kenaikan harga gas untuk tabung 12Kg, tidak dapat dielakkan akan ada kekhawatiran bagi rakyat kecil nantinya akan ada juga penyesuaian harga untuk gas dengan tabung 3Kg. Hal ini akan menjadi batu sandungan yang besar bagi keberhasilan konversi minyak tanah ke gas. Ini menunjukkan kecenderungan pendapat rakyat bahwa pemerintah hanya aktif dan peduli terhadap keamanan APBN-nya saja, dan sebenarnya kesejahteraan rakyat menjadi nomor 2. Semoga saja tidak. Semoga saja pemerintah kita memang tidak sedang linglung.

Kategori: Critics
Ditandai: