Pendidikan adalah kebutuhan mutlak warga negara. Bahkan di negara-negara yang sudah mapan sekolah digratiskan bagi penduduknya. Tapi apa yang terpenting dari sebuah pendidikan? Jelas sistem pendidikannya adalah hal terpenting demi mencetak lulusan yang superior. Tapi sebelum kita bahas sistem pendidikan Indonesia, saya ingin membahas esensi pendidikan warga negara Indonesia. Pendidikan dasar di Indonesia seharusnya adalah lebih mengarah kepada pencarian kekuatan tersebut. Pendidikan dasar tersebut sudah tepat 9 tahun, terdiri dari Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah (seharusnya SMP tidak perlu ada dalam pendidikan Indonesia). Semenjak SD murid-murid haruslah sudah dikenalkan terhadap semua konsentrasi keilmuan. Jangan lagimembagi pengajaran ke dalam kelompok-kelompok ilmu besar, seperti IPS dan IPA secara global, namun sudah harus dipecah menjadi ilmu-ilmu yang lebih spesifik seperti jika IPS adalah ekonomi, hukum, politik dll dan jika IPA adalah seperti fisika, kimia, biologi dll. Tapi jelas dengan bobot disesuaikan dengan usia anak SD.
Di Sekolah Menengah, diajarkan lagi mengenai pengembangan keilmuan mendetail yang ada pada SD sebelumnya. Saya melihat ada kemubaziran waktu dan bobot yand diajarkan pada anak SD. Kurikulum SD sekarang masih 50% lebih adalah bermain dan pengenalan dasar. Seharusnya sedari SD itu anak-anak sudah harus dikenalkan dengan riset dan pengembangan ide-ide. Lihatlah pada negara-negara mapan, sudah ada kompetisi science sejak dari SD, sedangkan pada kurikulum kita, kurikulum SD masih kepada tahapan pengenalan dasar dan bermain. Barulah nanti di SMP dikenalkan pada dunia riset dan science. Hal tersebut sudah cukup telat menurut saya. Seharusnya pada sekolah Menengah murid-murid sudah bisa masuk ketahap intermediate dari semua konsentrasi keilmuan.
Pada jenjang selanjutkan selepas Sekolah Menengah, kurikulum sudah masuk kepada junior college (jadi bukan merupakan sekolah menengah lagi). Inilah saat paling penting bagi murid-murid. Setelah mereka dikenalkan selama 9 tahun (waktu yang cukup lama) dengan semua keilmuan, murid-murid sudah seharusnya menemukan kekuatan dan minatnya (dengan dibantu tenaga pengajar tentunya akan lebih baik). Nah pada saat Junior College ini adalah saat bagi murid-murid membuktikan hipotesis mereka akan kesimpulan awal kekuatan dan minatnya tersebut selama 3 tahun. Disinilah saatnya lebih dalam bagi murid-murid mempelajari spesialisasinya dan memperoleh semua informasi tentang perkuliahan dan pengenalan dunia kerja. Selama 3 tahun murid-murid harus membuktikan akan kekuatan dan minat yang disimpulkan pada Sekolah Menengah. Sehingga nantinya pada pemilihan jurusan di Perguruan Tinggi sudah merupakan pilihan spesialisasi yang tepat dan bukan merupakan coba-coba lagi.
Sering kita temui bahwa murid-murid baru menyadari bahwa minat dan kekuatan mereka pada masa kuliah. Karena mereka baru mengertikan akan konsentrasi kuliah dan dunia keilmuan kerja. Walhasil tak sedikit mahasiswa yang mengulang mengambil jurusan baru dan tak jarang juga mahasiswa yang mengesal dengan pilihan jurusannya. Akhirnya mereka tidak semangat dalam mempelajari konsentrasi kuliahnya. Untuk mengulangpun dirasa sudah telat. Sehingga pada akhirnya menghasilkan sarjana-sarjana yang tidak maksimal hasilnya. Bahkan sarjana-sarjana yang tidak mengerti betul bidang yang mereka ambil.
Pada akhirnya tenaga kerja kita adalah pada sarjana yang tidak maksimal tadi. Dan pada akhirnya tidak memberikan hasil yang maksimal pada dunia kerja dan karir. Sehingga kesejahteraanpun jadinya tidak maksimal.
Sudah saatnya kita harus memikirkan kurikulum pendidikan yang pro terhadap pencarian kekuatan diri sejak dini. Sehingga pada akhirnya kita memilki tenaga kerja yang superior dan mampu bersaing dengan orang asing.