“Biarlah kubertanya pada bintang-bintang, tentang arti kita dalam mimpi yang sempurna”, kira-kira begitulah potongan lirik lagu Band papan atas negeri sendiri, Peterpan. Saya sedang menonton konser Peterpan di salah satu televisi nasional saat menulis artikel ini. Dengan setting panggung didepan gedung bersejarah peninggalan Belanda, membuat saya mencoba membayangkan bagaimana kejayaan negeri kita dahulu kala, kekayaan alam dan hasil buminya telah mengundang negeri-negeri Eropa berdatangan ke negeri kita ini. Saya menjadi termenung sejenak, orang lain saja rela berlayar ribuan mil meninggalkan negerinya kesini, demi sebuah harapan sumber alam kita yang dipercaya akan menyejahterakan negeri-negeri Eropa. Bukan hanya sekedar harapan tapi terbukti Belanda 50% lebih negaranya dibangun dari perdagangan hasil bumi kita.
Jika negeri orang saja bisa dibuat makmur dengan kekayaan alam kita, kenapa kita yang memiliki kekayaan tersebut tidak bisa menjadi makmur? Apakah memang mesti kita bertanya pada bintang-bintang tentang mimpi kita terhadap kesempurnaan negeri ini, seperti yang Peterpan nyanyian dalam sebuah hit-nya? Presiden Amerika terdahulu, JFK, pernah mengucap “ janganlah engkau bertanya apa yang telah negaramu lakukan untukmu, tapi bertanyalah apa yang telah engkau berikan untuk negaramu”, sepertinya kita memang terus harus bertanya kepada diri kita sendiri apalagi yang bisa kita perbuat untuk negeri ini. Tak usahlah jauh-jauh bertanya pada bintang.
Saya mencoba menginventarisir apa saja yang negeri ini miliki, tanah yang subur, hampir seluruh tanaman produktif dapat tumbuh subur di negeri ini, kekayaan tambang yang beraneka ragam, mulai dari tambang energi berbagai bentuk, emas, timah, nikel, tembaga, bijih besi, bahkan sempai kepada intan, berlian dan permata negeri ini miliki. Sumber daya manusia yang besar, budaya yang beraneka ragam dan kompleks, adat istiadat yang unik, posisi geografis yang baik, berada disabuk daerah orbit satelit, belum lagi potensi keindahan alam dan dasar laut yang luar biasa, memiliki hutan hujan tropis yang memiliki tumbuhan paling kompleks di dunia, spesies hewan yang unik dan banyak, serta peninggalan-peninggalan sejarah yang tidak ternilai harganya semua kita miliki. Lalu apa salah kita sehingga kita tidak semakmur orang-orang Eropa yang sekedar mencicipi dan membawa oleh-oleh kekayaaan negeri kita?
Sehari sudah kenaikan BBM diumumkan pemerintah, karena membengkaknya APBN kita. Tapi apakah benar itu adalah langkah yang benar? Saya pernah menulis pada artikel saya terdahulu bahwa kenaikan BBM adalah penting demi menyelamatkan APBN kita. Tapi agenda pemimpin kita ada lagi yang lebih penting untuk diselamatkan, yaitu negeri ini. Diselamatkan dari korupsi, diselamatkan dari kemiskinan, diselamatkan dari kebodohan, dan diselamatkan dari keterbelakangan. Saya setuju kenaikan BBM adalah penting, tapi lebih penting rencana setelah kenaikan BBM ini yang lebih penting. Dana subsidi yang “diselamatkan” untuk dibakar pada minyak harus di-maintain dan diawasi dengan baik alokasinya oleh setiap rakyat Indonesia. Dana tersebut haruslah dialokasikan kepada : pertama, pembangunan infrastruktur transportasi rakyat yang baik, memadai, nyaman dan yang terpenting adalah murah. BBM paling dibanyak persentasenya dibakar untuk transportasi, oleh karena itu pemerintah harus concern dengan bidang ini, alat transportasi masal haruslah memadai, Jakarta saja masih belum memadai, lihatlah masih banyak kendala pada penyelenggaraan Transjakarta di ibukota ini, apalagi di daerah, jauh lebih buruk lagi. Perbaikan dan perluasan jalan-jalan, terutama jalan-jalan diluar Jawa harus menjadi perhatian dan prioritas, sehingga tidak ada lagi daerah yang terisolir yang menghambat majunya ekonomi karena sulitnya akses. Yang pasti sarana transportasi haruslah murah dan memadai. Hal ini akan membuat rakyat berfikir untuk menggunakan kendaraan pribadi.
Kedua pembangunan teknologi pangan dan pertanian yang baik, harus juga menjadi perhatian utama. Mantan presiden Soeharto dahulu pernah mempraktekkan politik pangan “perut kenyang” (bukan berarti saya membela Soeharto) dan cukup “membungkam” rakyatnya sehingga tidak sadar jika ada yang “tidak beres” dengan presidennya. Pupuk dan bibit murah adalah stimulus terbaik untuk memajukan pertanian di Indonesia dan merupakan syarat mutlak, oleh karena itu alokasi subsidi BBM haruslah salah satunya dialokasikan ke sektor pertanian ini. Kemudian riset-riset teknologi pertanian di kampus-kampus juga harus didukung penuh dan digalakkan oleh pemerintah. Dari mana dananya? Pastinya harus dialokasikan juga kesini.
Ketiga adalah penyediaan lapangan kerja yang harus menjadi prioritas berikutnya. Stimulasi terhadap industri lokal dan daerah haruslah digalakkan, sehingga ekonomi tidak lagi terpusat di Jakarta saja, namun menyebar sampai ke daerah-daerah. Dukungan hukum dan kebijakan terhadap industri lokal dan daerah mutlak diperlukan. Jangan sampai kasus petani Sukirin dengan industri bibit jagungnya terulang lagi.
Keempat pendidikan gratis dan maju untuk rakyat. Ingat hal ini jelas diamanatkan dalam UUD kita. Warisan Megawati tentang Kapitalisasi pendidikan, yaitu pembentukan BHMN terhadap setiap kampus negeri di Indonesia harus segera dibatalkan dan dikembalikan pada pendidikan pro rakyat. Kemudian penghidupan riset teknologi kampus harus digiatkan. Ini penting untuk kemajuan negeri ini, karena pusatnya kaum intelektual (walaupun saya percaya bahwa pengetahuan itu tersebar tidak hanya di pusat pendidikan saja) dan sumber daya muda paling banyak adalah di kampus. Bangsa tanpa ilmu pengetahuan adalah tinggal menunggu dijajah saja. Tentu kita tidak mau itu terjadi.
Kelima adalah nasionalisasi usaha-usaha tambang dan agri industri di dalam negeri, ekplorasi swadaya kekayaan tumbuhan menghasilkan (dengan cara yang bersahabat dengan lingkungan tentunya) serta perubahan sumber energi untuk listrik dari energi tak terbarukan ke energi yang gratis dan terbaru, seperti PLT panas bumi, air, tenaga surya dan masih banyak lagi pilihan lainnya. Mengapa kita yang memiliki kekayaan perusahaan asing yang menikmati? Sebut saja Exxon Mobile, Total, Caltex, Shell dll telah merampas kekayaan minyak kita dengan sistem bagi hasil yang sangat tidak menguntungkan bangsa ini. Mengapa tidak kita tambang saja sendiri? Apa fungsi Pertamina? Ingat Pertamina adalah perusahaan tambang yang sudah tua dan berpengalaman sejak jaman Belanda, bahkan Petronas dari Malaysia pernah belajar ke Pertamina, mengapa masih saja meragukan kemampuannya? Yang harus dilakukan adalah pemberantasan korupsi di Pertamina dan terus mengembangkan teknologi Pertamina.
Keenam pengefektifan pegawai negeri sipil dan pemberantasan KKN di dalam pemerintahan tidak bisa ditawar lagi. Karena lebih dari 50% dana negara menguap oleh korupsi melalui oknum pejabat negara yang korup. Pengefektifan dan pengindependenan KPK dan BPK adalah langkah paling penting, bahkan pengawasan terhadap setiap departemen dan pelayanan publik adalah wajib. Sehingga saya harapkan nantinya akan ada lebih banyak lagi badan pengawas, karena 2 badan tersebut belum cukup untuk memberantas korupsi. Pemangkasan birokrasi pada pelayanan publik juga bukan hal yang boleh dilupakan.
Dengan enam prioritas di atas, saya yakin jika dilaksanakan dengan baik dan sungguh oleh pemerintah dan seluruh rakyat Indonesia, saya percaya Indonesia akan terlepas dari keterpurukan yang sudah satu dekade ini. Dan mungkin “mimpi yang sempurna” yang dilontarkan oleh Peterpan akan terwujud. Amin!
0 responses so far ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.
Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.