Kerangka Berpikir Arif Apriyadi

Masukan dari Mei 2008

Bantuan Langsung Tunai (BLT) : Salah Langkah?

Mei 26, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Saya melihat pada berita televisi mengenai demo penolakan BLT atau Bantuan Langsung Tunai. Bahkan ada beberapa walikota di daerah ikut melakukan penolakan. Saya menjadi merasa gatal untuk sedikit membahasnya.

Jika kita pikir dengan pemikiran awam saja jelas bahwa BLT ini tidak sesuai dengan pepatah “berikan aku kail, jangan berikan ikan”. Dengan kebijakan BLT Rp. 300.000,- perbulan selama 6 bulan dan penerima BLT kurang lebih ada sekitar 20 juta orang miskin, maka dana BLT yang harus disediakan oleh pemerintah adalah sebesar 36 Trilyun rupiah. Saya rasa dana tersebut adalah dana yang cukup untuk memsubsidi sebuah kampus negeri di Indonesia dan membebaskan semua mahasiswanya dari beban biaya pendidikan. Dana yang terbuang sia-sia menurut saya dan tidak menghasilkan efek membangun bagi rakyat Indonesia.

Lebih dari seminggu yang lalu, sebelum diumumkannya harga kenaikan BBM, saya pernah menonton acara talk show antara Jubir Kepresidenan, Menko Kesra dan Metro TV. Saya ingat sekali apa yang dikatakan oleh Andi Malarangeng tentang BLT. Dia bilang ada kala kita harus memberikan kailnya, ada kalanya kita harus membantu dengan ikannya, karena kebutuhan tersebut bersifat segera dan mendesak. Tapi dikala harga-harga kebutuhan pokok seperti ini seberapa lama Rp. 300.000,- dapat bertahan? Sehabis itu dana tersebut habis tanpa meninggalkan bekas. Berbeda jika dana BLT yang jumlahnya trilyunan tersebut digunakan untuk membangun infrastruktur air bersih, misalnya, atau infrastruktur pengairan sawah, misalnya lagi, maka dampaknya akan sangat luas bagi kemajuan masyarakat.

Rakyat Indonesiapun menurut saya tidak bodoh. Dengan adanya reaksi penolakan dari beberapa lapisan masyarakat (dan ini bukan jumlah yang sedikit) maka jelas rakyat tahu persis apa yang menjadi kebutuhan mereka. Kebutuhan jangka menengah dan panjang yang lebih menjanjikan untuk kemakmuran dan kesejahteraan. Bukankah program hemat energi yang dicanangkan pemerintah juga demi jangka menengah dan panjang?

Ada beberapa kalangan yang menilai BLT ini adalah merupakan suatu suap politik. Ada juga yang menilai sebagai pembodohan dan pelecehan bagi rakyat. Tapi apapun pendapat orang, saya menilai BLT ini merupakan langkah yang tidak tepat dan tidak solutif. Pelaksanaannyapun masih penuh kesanksian akan kejujurannya, buktinya ditemukan beberapa pungli yang diadakan oleh RT dan RW setempat. Sehingga jelas BLT ini bukan merupakan langkah yang tepat. Menurut saya akan lebih bermanfaat jika dana ini dapat dialih kepada pembangunan yang bersifat masif dan infrastruktur. Saya juga berpendapat rakyat kita sudah terbiasa akan kehidupan yang sederhana, tapi yang perlu diselesaikan adalah pembangunan untuk kesejahteraan harus diutamakan. Sehingga anak cucu kita tidak perlu merasakan kepahitan orang tuanya saat ini.

Kategori: Critics · Economy · Opinion
Ditandai: ,

“Mimpi yang Sempurna” dan Agenda Berikutnya Setelah Kenaikan BBM

Mei 24, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

“Biarlah kubertanya pada bintang-bintang, tentang arti kita dalam mimpi yang sempurna”, kira-kira begitulah potongan lirik lagu Band papan atas negeri sendiri, Peterpan. Saya sedang menonton konser Peterpan di salah satu televisi nasional saat menulis artikel ini. Dengan setting panggung didepan gedung bersejarah peninggalan Belanda, membuat saya mencoba membayangkan bagaimana kejayaan negeri kita dahulu kala, kekayaan alam dan hasil buminya telah mengundang negeri-negeri Eropa berdatangan ke negeri kita ini. Saya menjadi termenung sejenak, orang lain saja rela berlayar ribuan mil meninggalkan negerinya kesini, demi sebuah harapan sumber alam kita yang dipercaya akan menyejahterakan negeri-negeri Eropa. Bukan hanya sekedar harapan tapi terbukti Belanda 50% lebih negaranya dibangun dari perdagangan hasil bumi kita.

Jika negeri orang saja bisa dibuat makmur dengan kekayaan alam kita, kenapa kita yang memiliki kekayaan tersebut tidak bisa menjadi makmur? Apakah memang mesti kita bertanya pada bintang-bintang tentang mimpi kita terhadap kesempurnaan negeri ini, seperti yang Peterpan nyanyian dalam sebuah hit-nya? Presiden Amerika terdahulu, JFK, pernah mengucap “ janganlah engkau bertanya apa yang telah negaramu lakukan untukmu, tapi bertanyalah apa yang telah engkau berikan untuk negaramu”, sepertinya kita memang terus harus bertanya kepada diri kita sendiri apalagi yang bisa kita perbuat untuk negeri ini. Tak usahlah jauh-jauh bertanya pada bintang.

Saya mencoba menginventarisir apa saja yang negeri ini miliki, tanah yang subur, hampir seluruh tanaman produktif dapat tumbuh subur di negeri ini, kekayaan tambang yang beraneka ragam, mulai dari tambang energi berbagai bentuk, emas, timah, nikel, tembaga, bijih besi, bahkan sempai kepada intan, berlian dan permata negeri ini miliki. Sumber daya manusia yang besar, budaya yang beraneka ragam dan kompleks, adat istiadat yang unik, posisi geografis yang baik, berada disabuk daerah orbit satelit, belum lagi potensi keindahan alam dan dasar laut yang luar biasa, memiliki hutan hujan tropis yang memiliki tumbuhan paling kompleks di dunia, spesies hewan yang unik dan banyak, serta peninggalan-peninggalan sejarah yang tidak ternilai harganya semua kita miliki. Lalu apa salah kita sehingga kita tidak semakmur orang-orang Eropa yang sekedar mencicipi dan membawa oleh-oleh kekayaaan negeri kita?

Sehari sudah kenaikan BBM diumumkan pemerintah, karena membengkaknya APBN kita. Tapi apakah benar itu adalah langkah yang benar? Saya pernah menulis pada artikel saya terdahulu bahwa kenaikan BBM adalah penting demi menyelamatkan APBN kita. Tapi agenda pemimpin kita ada lagi yang lebih penting untuk diselamatkan, yaitu negeri ini. Diselamatkan dari korupsi, diselamatkan dari kemiskinan, diselamatkan dari kebodohan, dan diselamatkan dari keterbelakangan. Saya setuju kenaikan BBM adalah penting, tapi lebih penting rencana setelah kenaikan BBM ini yang lebih penting. Dana subsidi yang “diselamatkan” untuk dibakar pada minyak harus di-maintain dan diawasi dengan baik alokasinya oleh setiap rakyat Indonesia. Dana tersebut haruslah dialokasikan kepada : pertama, pembangunan infrastruktur transportasi rakyat yang baik, memadai, nyaman dan yang terpenting adalah murah. BBM paling dibanyak persentasenya dibakar untuk transportasi, oleh karena itu pemerintah harus concern dengan bidang ini, alat transportasi masal haruslah memadai, Jakarta saja masih belum memadai, lihatlah masih banyak kendala pada penyelenggaraan Transjakarta di ibukota ini, apalagi di daerah, jauh lebih buruk lagi. Perbaikan dan perluasan jalan-jalan, terutama jalan-jalan diluar Jawa harus menjadi perhatian dan prioritas, sehingga tidak ada lagi daerah yang terisolir yang menghambat majunya ekonomi karena sulitnya akses. Yang pasti sarana transportasi haruslah murah dan memadai. Hal ini akan membuat rakyat berfikir untuk menggunakan kendaraan pribadi.

Kedua pembangunan teknologi pangan dan pertanian yang baik, harus juga menjadi perhatian utama. Mantan presiden Soeharto dahulu pernah mempraktekkan politik pangan “perut kenyang” (bukan berarti saya membela Soeharto) dan cukup “membungkam” rakyatnya sehingga tidak sadar jika ada yang “tidak beres” dengan presidennya. Pupuk dan bibit murah adalah stimulus terbaik untuk memajukan pertanian di Indonesia dan merupakan syarat mutlak, oleh karena itu alokasi subsidi BBM haruslah salah satunya dialokasikan ke sektor pertanian ini. Kemudian riset-riset teknologi pertanian di kampus-kampus juga harus didukung penuh dan digalakkan oleh pemerintah. Dari mana dananya? Pastinya harus dialokasikan juga kesini.

Ketiga adalah penyediaan lapangan kerja yang harus menjadi prioritas berikutnya. Stimulasi terhadap industri lokal dan daerah haruslah digalakkan, sehingga ekonomi tidak lagi terpusat di Jakarta saja, namun menyebar sampai ke daerah-daerah. Dukungan hukum dan kebijakan terhadap industri lokal dan daerah mutlak diperlukan. Jangan sampai kasus petani Sukirin dengan industri bibit jagungnya terulang lagi.

Keempat pendidikan gratis dan maju untuk rakyat. Ingat hal ini jelas diamanatkan dalam UUD kita. Warisan Megawati tentang Kapitalisasi pendidikan, yaitu pembentukan BHMN terhadap setiap kampus negeri di Indonesia harus segera dibatalkan dan dikembalikan pada pendidikan pro rakyat. Kemudian penghidupan riset teknologi kampus harus digiatkan. Ini penting untuk kemajuan negeri ini, karena pusatnya kaum intelektual (walaupun saya percaya bahwa pengetahuan itu tersebar tidak hanya di pusat pendidikan saja) dan sumber daya muda paling banyak adalah di kampus. Bangsa tanpa ilmu pengetahuan adalah tinggal menunggu dijajah saja. Tentu kita tidak mau itu terjadi.

Kelima adalah nasionalisasi usaha-usaha tambang dan agri industri di dalam negeri, ekplorasi swadaya kekayaan tumbuhan menghasilkan (dengan cara yang bersahabat dengan lingkungan tentunya) serta perubahan sumber energi untuk listrik dari energi tak terbarukan ke energi yang gratis dan terbaru, seperti PLT panas bumi, air, tenaga surya dan masih banyak lagi pilihan lainnya. Mengapa kita yang memiliki kekayaan perusahaan asing yang menikmati? Sebut saja Exxon Mobile, Total, Caltex, Shell dll telah merampas kekayaan minyak kita dengan sistem bagi hasil yang sangat tidak menguntungkan bangsa ini. Mengapa tidak kita tambang saja sendiri? Apa fungsi Pertamina? Ingat Pertamina adalah perusahaan tambang yang sudah tua dan berpengalaman sejak jaman Belanda, bahkan Petronas dari Malaysia pernah belajar ke Pertamina, mengapa masih saja meragukan kemampuannya? Yang harus dilakukan adalah pemberantasan korupsi di Pertamina dan terus mengembangkan teknologi Pertamina.

Keenam pengefektifan pegawai negeri sipil dan pemberantasan KKN di dalam pemerintahan tidak bisa ditawar lagi. Karena lebih dari 50% dana negara menguap oleh korupsi melalui oknum pejabat negara yang korup. Pengefektifan dan pengindependenan KPK dan BPK adalah langkah paling penting, bahkan pengawasan terhadap setiap departemen dan pelayanan publik adalah wajib. Sehingga saya harapkan nantinya akan ada lebih banyak lagi badan pengawas, karena 2 badan tersebut belum cukup untuk memberantas korupsi. Pemangkasan birokrasi pada pelayanan publik juga bukan hal yang boleh dilupakan.

Dengan enam prioritas di atas, saya yakin jika dilaksanakan dengan baik dan sungguh oleh pemerintah dan seluruh rakyat Indonesia, saya percaya Indonesia akan terlepas dari keterpurukan yang sudah satu dekade ini. Dan mungkin “mimpi yang sempurna” yang dilontarkan oleh Peterpan akan terwujud. Amin!

Kategori: Economy · Idea · Opinion · Thought
Ditandai: ,

Acara Peringatan 100 Tahun Kebangkitan Bangsa : Meaningless dan Mubazir

Mei 20, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Saat ini masih berlangsung acara peringatan 100 tahun Kebangkitan Bangsa. Acara yang disiarkan serentak secara langsung seluruh televisi nasional dan lokal (kecuali Stasiun TV Space Toons) ini diisi dengan berbagai macam acara dan pendukung. Acara banyak diisi oleh tari-tarian daerah, aksi dari TNI & Polri, Marching Band, Pencak Silat dll. Acara ini digelar di Gelora Bung Karno dengan di hadiri oleh Presiden dan wakil Presiden, duta-duta besar negara tetangga serta para pejabat lembaga tinggi dan tertinggi negara.

Peringatan 100 tahun Kebangkitan Bangsa ini saya nilai lebih kepada Upacara pembukaan Sea Games atau PON atau bisa juga lebih mirip peringatan 17 Agustus. Tidak ada runutan acara yang spesial disini yang mewakili semangat Kebangkitan Bangsa. Acara yang lebih didominasi oleh atraksi TNI & Polri ini tidak sama sekali berisi pendidikan dan kebangsaan sebagaimana semangat dari Kebangkitan Bangsa 1908 yang dipelori oleh Wahidin Sudirohusodo dan Ki Hajar Dewantara.

Sebenarnya apa yang menjadi amanat dari Kebangkitan Bangsa ini? Pertama adalah keidentitasan Bangsa Indonesia, Indonesia yang bersatu dari Sabang – Merauke yang disatukan oleh semangat kebangsaan Indonesia untuk tujuan kesejahteraan dan kehormatan Bangsa. Kedua adalah demi kemajuan Bangsa yang didasari oleh pendidikan bagi seluruh rakyat, pencerdasan kehidupan bangsa serta penumbuhan intelektual bangsa.

Kembali ke acara peringatan 100 tahun Kebangkitan Bangsa tadi, tidak ada satupun amanat dari Kebangkitan Bangsa itu digambarkan pada acara ini. Acaranya pun tidak sama sekali mewakili Indonesia. Acara ini masih saja Java Centric dan ditambah dengan TNI & Polri Centric. Apa hubungannya atraksi TNI & Polri dengan Kebangkitan Bangsa? Agak aneh memang. Saya sangat menghargai kontribusi TNI & Polri pada acara ini, tapi menurut saya tidak pada tempat dan moment-nya. Acara tari-tarian daerahnyapun tidak mewakili seluruh budaya Indonesia. Budaya yang ditampilkan disini masih didominasi oleh kebudayaan di pulau Jawa. Sedikit sekali kebudayaan Indonesia bagian Timur yang ditampilkan disini. Bahkan saya tidak melihat adanya kesenian dari daerah Nusa Tenggara Barat dan Timur. Sehingga jelas amanat Kebangkitan Bangsa tentang kesatuan identitas bangsa yang majemuk tapi satu ini belum secara menyeluruh tergambarkan.

Menurut saya lebih pantas jika diselenggarakan tidak dalam bentuk kolosal seperti ini, lebih sederhana akan lebih baik tapi lebih mengena kepada esensi kebangkitan bangsa, seperti pameran hasil teknologi bangsa, atau bisa juga pencanangan program-program yang lebih mensejahterakan rakyat, seperti perbaikan kurikulum pendidikan Indonesia, atau gerakan yang mengembalikan misi-misi negara yang belum tercapai, seperti penciptaan lapangan kerja, mengentaskan kemiskinan dll. Dengan begitu maka akan lebih terasa amanat Kebangkitan Bangsa kita.

Ditengah keprihatinan bangsa saat ini, diantara kesedihan rakyat dalam menanti keputusan kenaikan BBM oleh pemerintah dan dibelantara kenaikan harga kebutuhan pokok yang tidak terbendung, acara ini sangat mubazir dan meaningless. Tidak ada kegunaan dan pesan yang bisa diambil oleh rakyat Indonesia dari acara ini. Acara ini membukti bahwa pemerintah masih belum serius mengemban amanat Kebangkitan Bangsa tahun 1908.

Kategori: Critics
Ditandai:

Tim Thomas Kalah : Disebabkan oleh Tidak Adanya Kebanggaan Bangsa

Mei 16, 2008 · 1 Komentar

Saya sudah dari jam 9.30 memantau terus website berita yang ada di tanah air. Pasalnya pahlawan-pahlawan olah raga sedang bertanding di istora senayan, namun tidak ada satupun televisi nasional maupun lokal yang menyiarkan partai pertandingan penentu kejuaraan Thomas, tunggal kedua Taufik Hidayat. Setelah lebih dari satu jam memantau web berita tersebut ternyata berita duka cita yang saya dapat. Tim Thomas Indonesia kalah dengan nilai telak 0 – 3 atas tim Korea Selatan.

Tapi saya tetap memberikan standing ovation untuk tim Thomas Indonesia karena kegigihannya membela Indonesia, meski akhirnya gagal. Saya tidak akan mengkomentari tim Thomas kita yang kalah, karena mereka sudah all out bermain. Tapi saya mempunyai kesimpulan dari kekalahan tersebut. Kesimpulannya adalah : Bangsa Indonesia tidak ada kepatriotan dan kebanggaan terhadap tim Thomasnya.

Mengapa saya sebut demikian? Karena lihat saja, disaat partai paling penentu sedang berlangsung malah televisi kita tidak ada yang menyiarkan partai tunggal Taufik Hidayat tersebut. Trans Media Group lebih mementingkan pendapatannya daripada Bangsanya. Lihat saja demi acara yang sudah terjadwal maka siaran langsung dihentikan. Karena jadwal siaran langsung Piala Thomas – Uber hanya dijadwalkan sampai jam 9 malam saja. Saya rasa itulah mengapa Indonesia kalah. Karena tidak ada kebanggaan dari bangsanya sendiri. Trans Media yang menggembor-gembor Piala Thomas – Uber untuk kebanggaan bangsa sejak 2 bulan yang lalu, ternyata tidak membuktikan kebanggaannya. Tetap saja uang adalah segala (terbukti dengan Trans Media Group lebih mementingkan jadwal siarnya yang sudah di jadwalkan daripada menyiarkan secara lengkap kejuaraan tersebut). Sehingga terbukti bahwa relanya Trans Media Group menyiarkan kejuaraan ini bukan demi kebanggaan, tapi demi uang. Karena sponsor hanya membayar untuk siaran langsung sampai jam 9 malam. Bukan karena rasa tanggung jawab menyiarkan agar Bangsanya dapat melihat, memberi dukungan dan doa bagi pahlawannya.

Demikian juga dengan penonton Indonesia yang kelakuannya sangat mengganggu konsentrasi pahlawannya sendiri dengan sibuk meneriakkan “yah… huu…yah…huu”. Dengan perilaku penonton yang demikian, justru malah mengganggu konsentrasi tim Thomas kita. Seharusnya, saat shuttle cock dimainkan, penonton wajib tenang, baru memberikan yell yell saat cock tidak sedang bergulir. Ini membuktikan bahwa penonton Indonesia tidak dewasa, mengganggu konsentrasi dan lebih mementingkan emosi mereka saja. Penonton yang tenang saat pertandingan berlangsung adalah hal yang penting bagi konsentrasi pemain. Lihatlah ketika pertandingan tenis Grand Slam berlangsung, wasit tidak segan-segan untuk menegur penonton untuk diam saat bola dimainkan, dan penontonpun menurutinya. Coba kalau Grand Slam digelar di Indonesia, pasti wasit pertandingan akan stres karena sibuk menegur penonton untuk tenang.

Jadi jika boleh saya simpulkan, kekalahan Indonesia ini bukan semata-mata karena pemainnya tapi rasa kebanggaan yang tidak muncul dari bangsanya sendiri yang menjadi faktor lain dari kekalahan Indonesia. Sehingga stimulan dari perasaan dan kebanggaan Bangsa Indonesia untuk memenangi kejuaraan ini tidak keluar untuk menambah rasa harus menang menjadi hilang. Jangan sampai partai Final tim Uber kita besok juga terpotong siarannya pada jam 9 malam. Wahai bangsaku, berubahlah, 100 tahun kebangkitan nasional seperti tidak ada artinya bagi kalian.

Kategori: Opinion · Sport
Ditandai: ,

Perbandingan dengan Singapura : Tarif Parkir akan Naik

Mei 11, 2008 · & Komentar

Satu lagi kebijakan pemerintah yang kurang esensi menurut saya muncul, tapi kali ini muncul dari dari pemerintah daerah DKI Jakarta. Saya baca di koran beberapa hari yang lalu bahwa pemda DKI Jakarta akan merevisi tarif parkir alias menaikkan tarif parkir. Alasan Bang Fauzi Bowo adalah tarif parkir di Jakarta masih terlalu murah jika dibandingkan dengan negara tetangga Singapura. Biaya parkir disana adalah sekitar SGD 7 – 10 untuk 3 jam parkir alias jika di kurs ke rupiah dengan kurs 5 ribu rupiah per 1 SGD, maka 35 ribu – 50 ribu rupiah.

Memang perlu diadakan perbandingan antar negara terhadap sebuah kebijakan, sebagai benchmark untuk para pembuat kebijakan. Tapi yang perlu diingat dari sebuah perbandingan adalah jangan membandingkan secara sebagian. Tapi lucunya pemda DKI hanya membandingkan tarif parkirnya, tanpa membandingkan pelayanan publiknya, khususnya pelayanan parkir antar Jakarta dan Singapura.

Bagaimana tidak lucu, pelayanan parkir di Singapura jelas sangat tertata rapi, gedung-gedung parkir sangat memadai dan cukup, aturan perparkiranpun juga sangat baik dan aliran dana parkirpun jelas dipergunakan untuk pemerintah dalam melayani publik. Sehingga ada timbal balik antara pengorbanan rakyat dalam biaya parkir dengan pelayanan parkir yang didapatkan oleh rakyat. Lain dengan Jakarta, gedung parkirpun dirasa masih sulit, sebagian besar lahan parkir dikelola oleh swasta, pengawasan terhadap dana parkir yang masuk ke kas daerahpun sangat diragukan kebenaran dan kejujurannya. Masih banyak pungutan biaya parkir liar yang tidak masuk kas daerah. Sebagai contoh, sering sekali kita dalam membayar parkir tidak mendapatkan struk parkir sebagai bukti kita telah membayar parkir. Atau contoh lain, di daerah tanah abang, lahan parkir malah dikuasai oleh prema-preman tanah abang dan jelas dananya masuk ke para preman tersebut.

Menurut saya jika pemda memang perlu untuk mencari sumber dana bagi APBD DKI, silahkanlah perbaikan regulasi parkir dan pengawasannya. Saya yakin jika hal tersebut dilakukan denga baik pendapatan daerah DKI dari parkir akan naik lebih dari 50%. Jangan mencari jalan pintas dengan menaikkan tarif parkir. Perlu diingat, sewaktu kampanye dulu, Bang Fauzi sangat dikenal dengan slogan “serahkan pada ahlinya dalam mengurus Jakarta”. Mana buktinya? Atau maksud dari “ahli” disini adalah ahli dalam menaikkan tarif parkir? Kira-kira 6 bulan sudah Bang Fauzi menjabat Gubernur, tapi kok kebijakannya masih warisan Sutiyoso semua yah? Mana nih kebijakan yang original dan solutif dari Bang Fuazi dalam mengurus Jakarta?

Kategori: Critics · Opinion
Ditandai: ,

Pencanangan Hemat Energi oleh SBY , Apakah Langkah yang Benar?

Mei 1, 2008 · & Komentar

Kemarin, Presiden kita menghimbau seluruh rakyat Indonesia untuk berhemat energi, baik minyak, listrik dan energi-energi lainnya. Sebenarnya ada apa sih yang terjadi? Kenaikan harga minyak dunia dan harga pangan dunia menjadi penyebabnya. Minyak pada hari ini (01/05) dikisaran 115 USD per Barrel. Begitu juga dengan pangan, beras, jagung, gula, dan minyak sawit semua melonjak. Jelas hal ini menjadi kekhawatiran pemerintah. Bukan apa-apa, tapi beban subsidi yang ditanggung semakin tak terbendung melonjak. Dengan APBN masih menggunakan harga minyak 95 USD, maka berarti pemerintah harus menombok 10 USD per Barrel minyak mentah. Ditambah dengan perkiraan minyak akan tembus level psikologis 120 USD. Makin bengkaklah subsidi kita.

Lama kelamaan negara tak sanggup lagi menanggung besarnya subsidi. Namun dilain pihak keadaan politik dan ekonomi dalam negeri saat ini sangat tidak mendukung. Dengan perhelatan pemilu yang setahun lagi membuat SBY pusing tujuh keliling memikirkannya. Menaikkan harga minyak adalah keputusan yang sangat tidak popular (setidaknya begitu pemikiran beberapa politikus kita). Sehingga akan lebih aman jika SBY menghimbau saja seluruh rakyat Indonesia untuk berhemat. Memang kesannya dengan himbauan ini, Presiden tampak peduli akan rakyatnya dan tampak sangat bijak dengan himbauannya.

Tapi menurut saya himbauan hemat ini malah sangat lucu dan ironis. Mengapa? Karena, misal dengan program hemat listrik yang dicanangkan oleh PLN kepada dunia industri. Program insentif dan dis-insentifpun dijalankan. walhasil industri tidak mendapatkan harga listrik murah, malah menjadi lebih mahal. Mengapa demikian? Karena perhitungan budget produksi dalam dunia industri pasti sudah menggunakan perhitungan yang paling efisien, sehingga dengan perhitungan cost production dan harga jual sudah dibuat di depan, sesuai dengan target industri dan permintaan. Sehingga penggunaan listrik yang sekarang ada sudah merupakan penggunaan listrik yang paling efisien sesuai dengan perhitungan budget di depan tadi. Maka jika PLN bilang harus dihemat lagi, maka jalan satu-satunya adalah mengurangi produksi industri, dengan kata lain juga mengurangi laba industri. Ini tidak mungkin diambil oleh industri, karena dari situlah industri hidup, dari produksi. Semakin bagus produksi maka semakin bagus pula laba yang diterima.

Dengan pencanangan program insentif dan dis-insentif dari PLN malah hanyak membuat cost production menjadi lebih mahal, karena industri tidak mungkin berhemat, atau dengan kata lain mengurangi penggunaan listriknya (karena alasan di atas tadi). Wal hasil, harga barangpun akan menjadi naik karena cost production naik akibat terkena denda oleh PLN. Sehingga menurut saya program hemat ini malah menjadi program kenaikan cost, dengan kata lain menjadi program kenaikan harga barang industri.

Jadi pencanangan hemat oleh Presiden RI ini menjadi suatu yang bias dan mengawang-ngawang. Kalau saja seluruh rakyat Indonesia dan industri dapat menghemat 20% dari konsumsi energinya, terutama BBM, maka subsidi yang dapat dihemat oleh Negara adalah sebesar 1,2 Triliun IDR (Menurut perhitungan para pengamat ekonomi Indonesia). Namun jika pemerintah menaikkan harga BBM 20% saja, maka subsidi yang dapat dihemat adalah sebesar 20 Triliun IDR (juga menurut perhitungan pengamat ekonomi Indonesia). Inilah penghematan yang sesungguhnya menurut saya, asal pengalihan dari subsidi minyak ini benar-benar digunakan lagi untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, seperti pendidikan gratis, kesehatan gratis, pupuk dan pembangunan infrastruktur.

Sehingga menurut saya jika pemerintah RI berani untuk menaikkan harga BBM sekitar 20% – 30% dan mengalihkannya untuk subsidi yang lebih mengena kepada rakyat, ini adalah keputusan yang sangat popular dari seorang SBY. Berani mengesampingkan kepentingan politik untuk kepentingan rakyat adalah keputusan yang bukan main popular. Saya yakin rakyat kita adalah rakyat yang berjiwa besar, jika mereka melihat benar-benar pemerintah mengalihkan subsidi untuk kepentingan yang lebih besar dan tepat sasaran (seperti yang saya contohkan di atas) rakyat akan berdiri untuk melakukan standing ovation bagi pemerintahnya.

Jadi jangan takutlah untuk menaikkan harga BBM (kecuali untuk transportasi umum) wahai Presidenku. Tapi ingat pengalihan subsidi itulah yang menjadi kuncinya.

Kategori: Critics · Opinion
Ditandai: ,