Kerangka Berpikir Arif Apriyadi

Masukan dari April 2008

Buktikan Jika Kita Memang Besar: Tanggapan Terhadap Kasus Desi Anwar

April 27, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Kehormatan Bangsa dan Negara adalah segala-galanya. Pengorbanan bagi Bangsa dan Negara adalah wajib hukumnya. Tapi lucunya hal ini tidak benar-benar ditunjukkan oleh pemimpin negeri ini. Lihat saja pada kasus tuduhan Ramos Horta terhadap Desi Anwar, seorang Jurnalist Indonesia, dalam percobaan pembunuhan Horta. Dalam melakukan tuduhan sudah seharusnya berdasarkan bukti-bukti yang kuat dan hukum yang berlaku. Sehingga tidak seenaknya saja orang bisa melontarkan tuduhan.

Tuduhan Horta jelas hanya mencari kambing hitam dari kekalutan negeri Timor Leste. Tidak ada bukti yang kuat dari Horta dalam melemparkan tuduhannya, bahkan penyeledikan yang memadai tidak dilakukan. Ini jelas penghinaan terhadap rakyat Indonesia dan sebagai bangsa yang mempunyai harga diri seharusnya kita tidak tinggal diam. Pemimpin kita seharusnya merespon dengan sigap atas tuntutan tersebut. Jangan malah menjadi takut karena Timor Leste mendapat dukungan dari Australia. Mengapa kita harus takut oleh negara ingusan seperti itu?

Tindakan protes dan jalur hukum harus segera dikeluarkan oleh pemerintah kita. Ingat, adalah kewajiban negara dalam melindungi setiap warga negaranya, karena itulah fungsi dasar dari sebuah negara. Kenapa takut untuk menarik diplomat kita dan memulangkan diplomat Timor Leste. Dalam kebiasaan masyarakat Internasional, hal tersebut adalah hal yang wajar dan sah-sah saja. Justru hal ini menunjukkan bahwa kita tidak bisa dianggap remeh.

Sudah banyak peristiwa pelecehan terhadap bangsa ini, jangan sampai terulang lagi. Kita butuh pemimpin yang tegas dan berwibawa. Buktikan kalau kita memang bangsa yang besar. Jangan malah tinggal diam saja wahai pemimpin bangsa.

Kategori: Critics · Opinion
Ditandai: ,

DPR : Dewan Terhormatkah?

April 27, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

DPR RI adalah dewan terhormat. Betul, kita semua tahu itu, dan memang seharusnya begitu. Namun terhormat bukan dalam artian karena DPR adalah salah satu lembaga tinggi negara, tapi seharusnya juga terhormat karena tugas yang diemban dalam melayani rakyat Indonesia dan juga karena memang seharusnya mencontohkan kepada rakyat sikap-sikap yang terpuji, terhormat dan berbesar hati dalam menjadi abdi negara.

Tapi terhormat bukan berarti tak terjamah oleh hukum. Hukum itu berlaku tidak pandang bulu, tidak melihat jabatan, kewenangan ataupun apapun, tapi seharusnya benar-benar melihat dari sisi benar dan salah. Sehingga penegakan hukum juga seharusnya tidak pandang bulu. Jika memang dia bersalah harus dihukum, tidak peduli siapa orang itu. Presiden, anggota-anggota DPR, MPR, Polisi, TNI dan semua warga negara Indonesia harus tunduk kepada hukum. Bahkan para penegak hukum tersebutpun harus tunduk kepada hukum, seperti KPK, BPK, dan MA.

Sehingga adalah konyol jika DPR menolak untuk dilakukan penggeledahan kantor salah satu anggotanya dalam rangka penyelidikan kasus korupsi. Selama semua pelaksanaan penggeledahan itu sesuai dengan prosedur dan UU RI, maka hal tersebut tidak boleh dihalang-halangi dalam bentuk dan alasan apapun. Alasan penolakan yang dilontarkan oleh ketua DPR terhadap penggelehan tersebut adalah hal yang konyol, kekanak-kanakan dan justru melanggar hukum itu sendiri. Siapapun yang menghalang-halangi proses penegakan hukum harus ditindak tegas, karena bertentangan dengan hukum itu sendiri.

Seharusnya DPR sebagai salah satu lembaga pembuat hukum di Indonesia mengerti benar akan hal itu. Dan seharusnya DPR mendukung hal tersebut, asal memang sesuai prosedur. Jadi sikap penolakan dari DPR terhadap penggeledahan tersebut merupakan pelanggaran hukum dan patut untuk ditindak, atau setidaknya diberi teguran sehingga memberikan contoh kepada rakyat Indonesia dan para pejabat lainnya bahwa jangan pernah bermain-main dengan hukum. Bagaimana supremasi hukum bisa ditegakkan jika Lembaga Tinggi Negaranya tidak mendukung dan mencontohkan hal tersebut. Jangan-jangan lirik-lirik lagu Slank dalam album anti korupsinya adalah benar. jadi apakah benar DPR kita dewan terhormat? Anda pasti punya jawaban sendiri.

Kategori: Critics · Opinion
Ditandai: ,

Ayat-ayat Cinta : Mencari Uang atau Dakwah?

April 13, 2008 · 1 Komentar

Film paling fenomenal setelah AADC (Ada Apa Dengan Cinta) adalah AAC (Ayat-Ayat Cinta). Bukan saja menurut saya, tapi memang fakta membuktikan begitu. Mungkin karena singkatan judul filmnya dimulai dengan AA, atau mungkin juga karena unsur “Islam” yang dibawa oleh film atau isu poligami yang diusungnya. Diluar itu semua harus saya akui bahwa AAC memberi warna tersendiri dalam dunia film Indonesia.

Karena hal itulah saya mencoba me-review film ini. Mungkin anda sebagian ada yang berucap bahwa ini adalah telat, sudah basi atau bahkan sudah kehilangan auranya. Tapi justru inilah yang menarik, disaat petinggi-petinggi ini “terlena” oleh film ini, saya merasa terpanggil untuk memaparkan “penglihatan” saya dari angle yang berbeda.

Kesan pertama untuk film ini adalah : tidak profesional. Mengapa? Jelas film yang bermutu adalah film yang bisa menampilkan semaksimal mungkin suasana “real” dari tema dan scene film tersebut. Kita ambil contoh film yang diangkat dari komik, Asterix & Cleopatra. Jelas dibuat di mesir. Padang pasir, piramid, dan bahkan patung spinx muncul dalam film tersebut. Membuat kita percaya bahwa film ini memang menceritakan tentang Cleopatra. Berbeda dengan AAC. Plotnya adalah film ini bercerita tentang mahasiswa Indonesia yang belajar di Al-Azhar, Mesir. Tapi apa yang terjadi? Bahkan Al-Azhar-nya pun tidak muncul disana. Bukankah akan lebih menarik jika menampilkan Universitas yang telah berumur ribuan tahun tersebut? Pasti anda bilang, “khan produsernya tidak dapat izin dari pemerintah Mesir”. Justru itulah lucunya, kok masalah perijinan saja tidak bisa mengurus? Apalagi ini film tentang Islam, tentu akan lebih memudahkan menurut saya, lihat saja film Asterix, The Mummy dan bahkan film Tomb Raider, yang banyak mengumbarkan wanita dan aurat, bisa mendapat ijin dari Pemerintah Mesir. Mesir adalah negara yang begitu besar pengaruh Islam-nya, apakah mungkin tidak mengijinkan untuk membuat film tentang Islam? Hanya ada 2 kemungkinan, produser film AAC yang tidak becus atau Pemerintah Mesir menilai lain untuk film ini.

Film ini, katanya, membawa nafas dakwah, tapi saya sangat khawatir tentang kata “dakwah” disini. Saya ambil contoh pertama, ketika Fahri merasa putus asa membaca surat dari Universitas Al-Azhar bahwa dirinya dikeluarkan dari Universitas tersebut. Penulis film mencoba menyamakan hal ini dengan kejadian Nabi Yusuf AS. Tapi menurut saya keadaannya sangat berbeda. Keadaan Nabi Yusuf yang lebih memilih untuk dipenjara adalah karena memang lebih baik dipenjara daripada berbuat zina memenuhi nafsu Ratu Mesir. Berbeda dengan kisah fahri ini, dia hanya dituduh memperkosa oleh seorang yang mencintainya dengan tulus ditambah dengan keadaannya yang takut akan siksaan ayahnya dan takut mengecewakan ayah aslinya. Jadi jelas-jelas berbeda keadaannya. Saya acungi jempol niat sutradara untuk berdakwah, tapi jangan sampai dakwah itu salah penyampaian.

Kedua, pernikahan Fahri dengan dengan Maria dilaksanakan disaat Maria masih koma alias tidak sadarkan diri. Jelas-jelas dalam Islam pernikahan tersebut tidak sah. Karena memang semua pihak dalam pernikahan tersebut haruslah sadar dan berniat untuk menikah. Hal ini dapat membawa pendidikan yang buruk bagi umat Islam. Jangan-jangan nanti ada orang yang meniru menikahi wanita yang sedang tidur atau tidak sadarkan diri. Atau bahkan lebih ekstrim lagi, sengaja menidaksadarkan sang wanita tersebut baru dinikahi selagi wanita tersebut tidak sadarkan diri.

Ketiga, Poligami adalah hal yang sah dan jelas diperbolehkan dalam Islam, tentunya dengan syarat yang sangat ketat bagi si pelaksana poligami. Tapi menurut saya film ini terlalu takut mengusung poligami ini. Atau bahkan kalau mau lebih ekstrim, isu poligami yang diangkat dari sutradara ini hanyalah untuk mencari keuntungan semata dari fenomena masyarakat Indonesia tentang poligami. Poligami dalam Islam jelas tujuannya hanyalah untuk beribadah dan membina keluarga yang sakinah, mawaddah warahmah. Seharusnya kalau benar memang film ini mengangkat dakwah, mengapa tidak memunculkan dakwah tentang poligami yang benar, poligami yang berbahagia dan adil bagi semua istri, dan poligami yang sesuai dengan syariah. Tapi sayangnya kenapa sutradara “mematikan” sosok Maria dalam film tersebut? Terlihat sutradara takut poligami ini akan menimbulkan “masalah” bagi filmnya dan bagi penontonnya. Atau mungkin takut akan adanya pertentangan dari masyarakat.

Sebenarnya masih banyak hal lainnya yang kecil-kecil ingin saya ceritakan, tapi sudah cukup panjang review ini saya tulis. Bagi saya film ini punya misi yang mulia, tapi sayang tidak dikemas dan dipersiapkan dengan matang dan benar. Mengapa saya tulis review ini? Karena saya sangat cinta dengan Islam, dan saya takut Dahwah Islam yang dimunculkan dalam film ini tersampaikan dengan cara yang salah dan menimbulkan hal yang tidak bagus bagi Islam. Semoga saja tidak. Amin! Semoga penonton film ini bisa melakukan croscek terhadap semua dakwah yang disampaikan di film ini supaya yakin benar bahwa dakwah tersebut memang sesuai tuntunan Islam. Kritis terhadap agamamu adalah penting. Karena Islam dimulai dengan Iqro dan diakhiri dengan Ikhlas. Artinya Islam berkekuatan pada ilmu dan iman. Mudah-mudah kita selalu diberi ilmu dan iman oleh Allah Swt. Amin!

Kategori: Critics · Film
Ditandai:

Stagflasi @ Indonesia

April 9, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Inflasi di Indonesia semakin mengkhawatirkan. Angka inflasi Indonesia naik lebih dari 50 % dibanding periode sebelum. Begitu juga dengan pertumbuhan ekonomi yang turun hingga 6% awal tahun 2008 ini. Belum lagi ditambah isu pemerintah akan menaikkan harga BBM. Harga minyak dunia yang masih di atas 100 Dollar (meskipun itu sudah mengalami penurunan) tetap membebani APBN Indonesia dengan biaya subsidi yang sangat besar. Kemudian dengan terpilihnya Budiono sebagai calon tunggal Gubernur BI semakin memperlihatkan bahwa pemerintah benar-benar serius terhadap fenomena inflasi ini.

Pertanyaannya adalah apa yang membuat Pemerintah menjadi seserius ini? Apa benar hanya memikirkan kepentingan rakyat semata? Jawabannya mungkin iya, mungkin tidak. Tapi anda bisa mencari jawabannya sendiri. Kita lihat sejarah 5 tahun yang lalu, saat tampuk kepresidenan masih di pegang oleh Megawati. Keadaannya mirip sekali bukan. Inflasi tinggi, harga BBM dunia melonjak dan Megawati perlu membuat kebijakan yang “terlihat” pro rakyat demi terpilih kembali menjadi presiden. Sama dengan saat ini. Pemilu yang akan hadir tahun depan, membuat SBY harus “terlihat” peduli terhadap masalah ekonomi, apalagi inflasi. SBY sangat membutuhkan tenaga-tenaga yang mampu menurunkan inflasi, paling tidak sampai semester pertama tahun ini.

Dengan munculnya nama Budiono sebagai calon tunggal Gubernur BI telah memberikan sinyal-sinyal kekhawatiran SBY tersebut. Budiono yang terkenal anti-inflasi, tengah mempersiapkan gebrakan pertamanya dalam misi menurunkan inflasi yang membengkak awal tahun ini dengan rencana menaikkan SBI yang terkenal sebagai pengontrol inflasi paling mujarab (mujarab tapi hanya sesaat). Budiono punya andil besar bagi kepopuleran SBY menjelang pemilu 2009.

Kita lihat saja perkembangan ke depan, apakah inflasi berhasil ditekan dan SBY dapat menjadi “pahlawan” bagi kaum ibu (hal ini penting bagi SBY, karena sebagian besar pemilih SBY adalah wanita) dan apakah SBY memilih keputusan yang popular dengan mempertahankan harga BBM.

Diluar hal tersebut di atas, dengan adanya tindakan-tindakan tersebut, bagi para pengguna Dollar dapat sedikit bergembira, karena Pemerintah akan dengan mati-matian mempertahankan kekuata IDR terhadap USD, sehingga harga USD akan menjadi relatif murah, setidaknya sampai akhir semester pertama tahun ini. Mengapa demikian? Karena jika IDR melemah, hal ini akan menimbulkan ketidakstabilan politik di dalam negeri, hal ini jelas dihindari Pemerintah yang akan menggelar hajatan Pemilu tahun depan.

Yang menjadi korban atas keputusan ini adalah para investor. ISHG diperkirakan akan terus menukik, jika SBI jadi dinaikkan. Langkah yang dapat diambil bagi investor adalah melepas saham-saham lokal, dan masuk kembali saat kestabilan dirasa sudah membaik. Buy on weakness sah-sah saja, namun tidak untuk jangka panjang. Hal ini juga tentunya akan berimbas kepada pemegang reksadana, terutama reksadana saham. Maka direkomendasikan juallah reksadana anda on strenght dan beralihkan kepada simpanan dana pasti (SBI naik, bunga Deposito naik) sampai kestabilan datang kembali.

Kategori: Economy · Opinion
Ditandai: ,

Habis Resesi Amerika, Terbitlah Inflasi Indonesia

April 3, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Index 1Hari ini (3/4) IHSG terjun bebas disaat pasar Amerika, ditengah deraan resesi, malah justru sedang menanjak. Pemerintah pada awal April juga mengumumkan bahwa inflasi untuk bulan Maret adalah mencapai 1%. Para Deputi Gubernur BI-pun ikut panik dengan segera menggelar rapat. Issue yang beredar adalah BI akan menaikkan Rate BI. Sementara di Amerika, ISM Manufacturing Index menunjukkan peningkatan yang lebik baik dibandingkan dengan forecast. Kemudian Construction Spending di Amerika juga menunjukkan peningkatan, hal ini membukti bahwa sektor perumahan sedang merangkak naik, dimana kita tahu bahwa sektor inilah yang paling terpuruk di Amerika. Dollarpun ikut menguat terhadap JPY. Dapat kita lihat bahwa USD/JPY untuk pertama kali menembus level 101. Harga-harga komoditas seperti emas, minyak, CPO dll melangkah turun. Lalu mengapa Indonesia yang notabene tidak terkena resesi malah menjadi collapse? IHSG anjlok, harga barang melonjak, Inflasi besar, dan BI-pun panik.

Menurut saya dengan sentimen positif terhadap perbaikan resesi di Amerika justru memberikan angin segar terhadap Indonesia. Tapi celakanya, malah sebaliknya. Apa yang sebenarnya terjadi? Kepanikan, kekhawatiran yang berlebihan dan tindakan yang tidak dipikir panjang serta tidak becusnya pemerintah dalam mengelola ketersediaan pangan dan energi adalah penyebabnya. Panik bahwa bagaimana jika Indonesia ikut terkena resesi. Khawatir kalau ekonomi akan terpuruk seperti di Amerika. Tindakan tergesa-gesa dari BI untuk segera membuat meeting Deputi Gubernur.

Sebenarnya jika melihat keterpurukan ekonomi Amerika, Indonesia adalah negara yang paling diuntungkan. Harga USD murah, investor banyak yang beralih ke Indonesia karena tingkat suku bunga jauh lebih tinggi ketimbang suku bunga FED. Dengan begitu modal untuk membangun ekonomi akan dengan mudah terkumpul. Masalah di Indonesia ini hanyalah inflasi. Itupun dikarenakan ketidaksigapan pemerintah untuk mengendalikan harga pasar, sehingga inflasi berlarut-larut naik. Kebijakan pertanian yang berantakan, petinggi-petinggi yang hanya sibuk mempersiapkan pemilu 2009, tidak efisiennya kelola negara dan energi dan prioritas politik yang tidak masuk akal dan tidak memusatkan pada ekonomi makin menambah parah inflasi.

Issue BI akan menaikkan BI Rate, hanya adalah tindakan penyelesaian sesaat, memundurkan jam bom waktu ekonomi dan tidak menyelesaikan langsung kepada intinya. Kenaikan BI Rate justru akan menaikkan biaya produksi, karena bunga kredit menjadi mahal, walhasil akan kembali lagi menaikkan harga barang, alias inflasi tidak terselesaikan. BI seharusnya memulai dari usaha-usaha yang lebih makro seperti membuat kebijakan yang lebih pro pertumbuhan sektor riil dan UKM. Bukannya mengambil jalan pintas dengan menyerap rupiah melalui BI Rate tinggi. Kemudian kebijakan pemerintah tentang pertanian, pangan dan energi juga harus segera diperbaiki sehingga inflasi dapat segera diturunkan.

Kategori: Economy · Opinion
Ditandai: ,

Rusunami : Pro Rakyatkah?

April 1, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Gading NiasRusunami (Rumah Susun Hak Milik) atau lebih dikenal dengan Apartemen Rakyat direncanakan akan dibangun 1000 tower di Indonesia. Untuk Jakarta sendiri ada sekitar 72 tower yang siap dibangun oleh para developer kenamaan Indonesia. Apa istimewanya Rusunami ini? Mungkin seluruh penduduk Jakarta ini sudah tahu persis bahwa Rusunami ini adalah bersubsidi dari pemerintah. Ada 2 jenis subsidi disini : pertama adalah subsidi bunga 2,5% selama 4 tahun dan subsidi bebas PPN bagi siapa saja yang masuk kategori orang yang berhak mendapatkan subsidi.

Lalu siapa saja yang berhak mendapatkan subsidi? Peraturan Menpera menyebutkan beberapa syarat : pertama adalah Warga Negara Indonesia yang belum memiliki rumah yang dinyatakan oleh Surat Keterangan Belum Memiliki Rumah dari Lurah setempat, kedua memiliki pendapatan tidak lebih dari Rp. 4.500.000,- perbulan dan ketiga bersedia mengambil Kredit Pemilikan Rumah pada Bank yang ditunjuk Pemerintah serta tidak akan menjual Rusunami tersebut selama 5 tahun ke depan. Jika dilihat, syaratnya cukup mudah dan terkesan pro-rakyat, khususnya kaum muda yang belum memiliki rumah. Terkesan bahwa memang Pemerintah serius menjalankan Amanat Rakyat dalam menyediakan perumahan yang terjangkau.

Tanpa berpikir panjang lagi, sayapun segera mengajukan permohonan Pemilikan Rusunami tersebut. Setelah menentukan dan membayar Booking fee pada sebuah developer Rusunami, sayapun langsung menuju Bank yang ditunjuk, yaitu BTN. Tentunya banyak pertanyaan yang saya lontarkan ke Bank mengenai syarat-syarat permohonan ini. Sampailah kepada pembicaraan bunga, ternyata ada syarat yang tidak secara gamblang disebutkan dalam Keputusan Menpera tersebut. Untuk mendapatkan subsidi bunga, haruslah Rusunami yang sudah siap huni alias sudah jadi. Jika tidak Pemerintah tidak akan membayar subsidi tersebut.

Jika anda lihat kenyataannya mana ada proyek Rusunami yang sudah selesai, kecuali Rusunami Cawang. Artinya semua Rusunami di Jakarta adalah indent alias pesan dulu. Dan mana ada Developer yang mau memasarkan Produknya menunggu saat Rusunami tersebut sudah jadi. Justru dari Bank dan Costumerlah sebagian besar dana didapat untuk membangun properti tersebut. Begitupun dulunya proyek Rusunami Cawang. Sehingga subsidi bunga dari pemerintah hanyalah isapan jempol belaka, pada prakteknya tidak ada subsidi bunga yang dibayarkan, karena sudah 95% unit Rusunami di Jakarta sudah habis dipesan.

Tapi kan masih ada subsidi PPN. Nah coba anda pikir lagi, PPN itu kan yang bayar adalah Costumer sehingga tidak ada dana sepeserpun yang pemerintah keluarkan untuk subsidi PPN. Memang kita masih untung 10% dari harga jual Rusunami. Tapi jika anda berpikir sedikit kritis saja, itu tidak cukup membantu. Coba kita hitung. Harga Rusunami yang diperkenankan oleh pemerintah maksimal adalah Rp. 144.000.000,-. Jadi 10% PPN tersebut adalah Rp. 14.400.000,-. Untuk gaji maksimal Rp. 4.500.000,- maka masa kredit minimal adalah 10 tahun (kecuali anda bisa bayar DP Min. 30%, yang berarti butuh dana besar diawal). Sehingga subsidi yang diberikan pemerintah (jika mau disebut subsidi) adalah Rp. 14.400.000,- dibagi 144 bulan sama dengan Rp. 100.000,- perbulan. Yah mungkin ada yang berpikir lumayan, tapi bagi saya dan kebanyakan para pemohon Rp. 100.000,- tidak sama sekali meringankan angsuran yang setiap bulan saya harus bayar.

Jadi jika boleh saya beri kesimpulan, tidak ada keikhlasan dari pemerintah untuk membantu rakyat dalam memenuhi kebutuhannya akan rumah murah. Rp. 144.000.000,- untuk unit yang berukuran 35m2 sudah tidak terbilang murah jika dibandingkan dengan rumah di Bekasi dengan ukuran 70m2 yang dibandrol kurang dari seratus juta. Jadi untuk kepentingan siapakah proyek ini? Rakyatkah? Bank berplat merahkah? Atau Developer-developer kakap?

Kategori: Critics · Opinion
Ditandai: ,