Film paling fenomenal setelah AADC (Ada Apa Dengan Cinta) adalah AAC (Ayat-Ayat Cinta). Bukan saja menurut saya, tapi memang fakta membuktikan begitu. Mungkin karena singkatan judul filmnya dimulai dengan AA, atau mungkin juga karena unsur “Islam” yang dibawa oleh film atau isu poligami yang diusungnya. Diluar itu semua harus saya akui bahwa AAC memberi warna tersendiri dalam dunia film Indonesia.
Karena hal itulah saya mencoba me-review film ini. Mungkin anda sebagian ada yang berucap bahwa ini adalah telat, sudah basi atau bahkan sudah kehilangan auranya. Tapi justru inilah yang menarik, disaat petinggi-petinggi ini “terlena” oleh film ini, saya merasa terpanggil untuk memaparkan “penglihatan” saya dari angle yang berbeda.
Kesan pertama untuk film ini adalah : tidak profesional. Mengapa? Jelas film yang bermutu adalah film yang bisa menampilkan semaksimal mungkin suasana “real” dari tema dan scene film tersebut. Kita ambil contoh film yang diangkat dari komik, Asterix & Cleopatra. Jelas dibuat di mesir. Padang pasir, piramid, dan bahkan patung spinx muncul dalam film tersebut. Membuat kita percaya bahwa film ini memang menceritakan tentang Cleopatra. Berbeda dengan AAC. Plotnya adalah film ini bercerita tentang mahasiswa Indonesia yang belajar di Al-Azhar, Mesir. Tapi apa yang terjadi? Bahkan Al-Azhar-nya pun tidak muncul disana. Bukankah akan lebih menarik jika menampilkan Universitas yang telah berumur ribuan tahun tersebut? Pasti anda bilang, “khan produsernya tidak dapat izin dari pemerintah Mesir”. Justru itulah lucunya, kok masalah perijinan saja tidak bisa mengurus? Apalagi ini film tentang Islam, tentu akan lebih memudahkan menurut saya, lihat saja film Asterix, The Mummy dan bahkan film Tomb Raider, yang banyak mengumbarkan wanita dan aurat, bisa mendapat ijin dari Pemerintah Mesir. Mesir adalah negara yang begitu besar pengaruh Islam-nya, apakah mungkin tidak mengijinkan untuk membuat film tentang Islam? Hanya ada 2 kemungkinan, produser film AAC yang tidak becus atau Pemerintah Mesir menilai lain untuk film ini.
Film ini, katanya, membawa nafas dakwah, tapi saya sangat khawatir tentang kata “dakwah” disini. Saya ambil contoh pertama, ketika Fahri merasa putus asa membaca surat dari Universitas Al-Azhar bahwa dirinya dikeluarkan dari Universitas tersebut. Penulis film mencoba menyamakan hal ini dengan kejadian Nabi Yusuf AS. Tapi menurut saya keadaannya sangat berbeda. Keadaan Nabi Yusuf yang lebih memilih untuk dipenjara adalah karena memang lebih baik dipenjara daripada berbuat zina memenuhi nafsu Ratu Mesir. Berbeda dengan kisah fahri ini, dia hanya dituduh memperkosa oleh seorang yang mencintainya dengan tulus ditambah dengan keadaannya yang takut akan siksaan ayahnya dan takut mengecewakan ayah aslinya. Jadi jelas-jelas berbeda keadaannya. Saya acungi jempol niat sutradara untuk berdakwah, tapi jangan sampai dakwah itu salah penyampaian.
Kedua, pernikahan Fahri dengan dengan Maria dilaksanakan disaat Maria masih koma alias tidak sadarkan diri. Jelas-jelas dalam Islam pernikahan tersebut tidak sah. Karena memang semua pihak dalam pernikahan tersebut haruslah sadar dan berniat untuk menikah. Hal ini dapat membawa pendidikan yang buruk bagi umat Islam. Jangan-jangan nanti ada orang yang meniru menikahi wanita yang sedang tidur atau tidak sadarkan diri. Atau bahkan lebih ekstrim lagi, sengaja menidaksadarkan sang wanita tersebut baru dinikahi selagi wanita tersebut tidak sadarkan diri.
Ketiga, Poligami adalah hal yang sah dan jelas diperbolehkan dalam Islam, tentunya dengan syarat yang sangat ketat bagi si pelaksana poligami. Tapi menurut saya film ini terlalu takut mengusung poligami ini. Atau bahkan kalau mau lebih ekstrim, isu poligami yang diangkat dari sutradara ini hanyalah untuk mencari keuntungan semata dari fenomena masyarakat Indonesia tentang poligami. Poligami dalam Islam jelas tujuannya hanyalah untuk beribadah dan membina keluarga yang sakinah, mawaddah warahmah. Seharusnya kalau benar memang film ini mengangkat dakwah, mengapa tidak memunculkan dakwah tentang poligami yang benar, poligami yang berbahagia dan adil bagi semua istri, dan poligami yang sesuai dengan syariah. Tapi sayangnya kenapa sutradara “mematikan” sosok Maria dalam film tersebut? Terlihat sutradara takut poligami ini akan menimbulkan “masalah” bagi filmnya dan bagi penontonnya. Atau mungkin takut akan adanya pertentangan dari masyarakat.
Sebenarnya masih banyak hal lainnya yang kecil-kecil ingin saya ceritakan, tapi sudah cukup panjang review ini saya tulis. Bagi saya film ini punya misi yang mulia, tapi sayang tidak dikemas dan dipersiapkan dengan matang dan benar. Mengapa saya tulis review ini? Karena saya sangat cinta dengan Islam, dan saya takut Dahwah Islam yang dimunculkan dalam film ini tersampaikan dengan cara yang salah dan menimbulkan hal yang tidak bagus bagi Islam. Semoga saja tidak. Amin! Semoga penonton film ini bisa melakukan croscek terhadap semua dakwah yang disampaikan di film ini supaya yakin benar bahwa dakwah tersebut memang sesuai tuntunan Islam. Kritis terhadap agamamu adalah penting. Karena Islam dimulai dengan Iqro dan diakhiri dengan Ikhlas. Artinya Islam berkekuatan pada ilmu dan iman. Mudah-mudah kita selalu diberi ilmu dan iman oleh Allah Swt. Amin!